Anak Muda Indonesia dalam Tim Robot European Commission

Tak salah jika Ahmad Ataka Awwalur Rizqi terpilih menjadi salah satu awardee Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Usianya baru 24 tahun, tapi Ataka sudah menorehkan berbagai prestasi yang menginspirasi. Mahasiswa program doktoral di King’s College London, Inggris itu menjadi satu-satunya orang Indonesia yang terlibat dalam sebuah proyek robot untuk bedah medis di Eropa. Proyek robot yang diikuti Ataka termasuk dalam program European Commission dengan keterlibatan berbagai universitas dan lembaga riset dari seluruh Eropa. Pada Januari 2015, ada dua proyek besar di sana. Yang pertama adalah STIFF-FLOP, sebuah proyek dengan tujuan mendesain sistem robotika baru untuk keperluan bedah di bidang medis, sedangkan yang kedua adalah Four by Three yang mengembangkan robot manipulator untuk digunakan di lingkungan industri.

Ketertarikan Ataka pada robotika bermula sejak menempuh kuliah di Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi, Universitas Gajah Mada (UGM) pada 2010. Di sana, putra pertama pasangan almarhum Ahmad Taufiqurrahman dan Nur Hilawah itu banyak mengikuti kelompok studi dan kompetisi robotika. “Ilmu yang dipelajari di bidang robotika itu benar-benar bisa langsung terlihat aplikasinya di dunia nyata,” kata Ataka mengungkapkan alasannya jatuh cinta pada bidang robotika.

Langsung S3

Setelah lulus dari UGM pada 2014, Ataka langsung menempuh program Doctor of Philosophy in Robotics di King’s College London. Awalnya, dia berniat untuk mendaftar program master terlebih dahulu. Namun, kesempatan untuk lompat jenjang ternyata datang tak diduga. Pada pertengahan 2014, karya tulis pengembangan dari skripsinya terpilih menjadi Best Conference Paper Award di konferensi Advanced Robotics and Intelligent Systems (ARIS) 2014 yang berlangsung di Taiwan. Dengan alasan keterbatasan dana, hanya sang dosen pembimbing yang berangkat untuk mempresentasikan karya tulis tersebut. Di Taiwan, dosen pembimbing Ataka bertemu dengan Kepala Centre for Robotics Research (CoRe) King’s College London, Kaspar Althoefer. Dari situlah kesempatan emas untuk langsung kuliah S3 menghampiri Ataka. Kaspar Althoefer menawari Ataka untuk melanjutkan kuliah di London. Beberapa program doktoral di Inggris memang tidak mengharuskan calon mahasiswanya mempunyai gelar master. Setelah melalui rangkaian proses pendaftaran, Ataka pun akhirnya dapat diterima di program doktoral. Menurut pemuda kelahiran Banyuwangi 24 Juli 1992 itu, banyak tantangan yang dihadapi pada masa awal perkuliahan. Dari sisi akademik, Ataka dituntut untuk bisa cepat beradaptasi dengan lingkungan belajar yang cukup berbeda dengan di Indonesia. Dalam program yang dia ambil, kegiatan riset menjadi sentral pembelajaran. Program tersebut juga tidak menyelenggarakan kelas ataupun ujian. “Jadi yang ada hanya riset dan laporan saja. Peran pembimbing pun hanya sebatas pendamping karena di sini saya dituntut untuk bisa melakukan kegiatan penelitian dari awal sampai akhir secara mandiri,” kata dia.

Sementara dari sisi non-akademik, Ataka harus bisa beradaptasi dengan lingkungan yang memiliki budaya sangat berbeda. “Alhamdulillah, selama ini saya banyak terbantu karena aktif di berbagai kegiatan warga Indonesia, khususnya acara yang diselenggarakan kedutaan,” ujarnya. Peraih medali perak pada International Physics Olympiad di Kroasia tahun 2010 itu melihat di masa depan, automasi dan robotika semestinya menjadi bidang yang harus dikuasai bangsa Indonesia. Oleh karena itu, dia sangat bersemangat mengambil program robotika. “Bidang ini penting untuk meningkatkan kualitas hidup manusia, seperti membantu meningkatkan produktivitas petani atau petambak udang, membantu tim SAR dalam proses penanggulangan bencana, hingga membantu dokter dalam proses operasi,” ujar Ataka.

Ataka berkuliah di King’s College London dengan Beasiswa LPDP. Ketertarikan Ataka mendaftar LPDP bermula ketika dia mendengar testimoni positif dari sejumlah senior yang sebelumnya telah menjadi awardee LPDP. Pengalaman positif mereka, terutama dalam hal kelengkapan fasilitas dan ketepatan waktu pencairan beasiswa, membuat peraih medali perunggu Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional 2014 itu memutuskan untuk mendaftar beasiswa LPDP.

Dunia Penulisan

Sejak kecil, Ataka memang sudah banyak meraih prestasi. Ketika duduk di bangku SMP, dia telah menulis beberapa karya fiksi. Saat usianya masih 13 tahun, Ataka sudah menulis dua buku, yaitu Misteri Pedang Skinheald 1: Sang Pembuka Segel dan Misteri Pembunuhan Penggemar Harry Potter. Pada 2007, buku ketiganya yang berjudul Misteri Pedang Skinheald 2: Awal Petualangan Besar berhasil diterbitkan. Bersama dengan seorang kawan karibnya, Ario Muhammad, Ataka baru saja menerbitkan buku Inspirasi dari Tanah Eropa. Buku keempat begitu membekas di benak Ataka. Buku ini adalah karya pertama Ataka yang terbit tanpa bantuan almarhum ayahnya. Selama ini, ayah Ataka selalu hadir menemani proses kreatif, mulai dari penulisan sampai diskusi dengan penerbit. “Beliau dulu pernah merelakan sebagian besar penghasilannya untuk membelikan saya computer pertama,” katanya. Ataka kecil yang gemar menulis di kertas-kertas kusam dengan tulisan cakar ayam pun bertransformasi menjadi penulis buku yang produktif di belia usia. “Beliau menyadarkan saya bahwa menulis bisa menjadi media berbagi dan berkontribusi, sebuah ladang amal yang teramat mulia,” ujar Ataka lagi. Buku Inspirasi dari Tanah Eropa pun secara khusus dia persembahkan untuk sang bapak.

Aktivitas Lain

Di luar aktivitas perkuliahan, Ataka mengajar secara paruh waktu bagi anak-anak warga Indonesia di London. Mata pelajaran yang diajarkannya adalah Matematika dan Fisika. Sesekali dia juga menjadi pemandu bagi tamu-tamu asal Indonesia. “Untuk organisasi, saya sempat aktif di KIBAR (Keluarga Islam Indonesia di Britania Raya) serta komunitas Nahdlatul Ulama di sini. Selain itu, saya juga masih menekuni hobi menulis buku,” kata dia. Setelah menyelesaikan S3 nanti, Ataka berkeinginan untuk melanjutkan ke program post doctoral. Rencana Ataka berikutnya adalah pulang ke tanah air dan mendaftar menjadi staf pengajar di kampusnya dulu, UGM. Di luar rencana akademik, Ataka juga ingin melanjutkan usaha di bidang aplikasi teknologi robotika yang dulu sempat dirintis bersama beberapa teman. “Saya berharap nantinya bisa berkontribusi melalui bidang keilmuan sebagai pendidik dan teknolog Indonesia,” katanya. Ataka memiliki impian agar di masa depan, Indonesia bisa menjadi bangsa yang berdaulat secara teknologi, khususnya di bidang robotika.



Leave a Reply