Anak Petani Juga Bisa Bersekolah Tinggi 

Cita-cita meraih pendidikan yang tinggi digantungkan Taofik di langit sejak kecil. Pria kelahiran Cianjur, 29 Desember 1988 itu selalu ingat pesan kedua orang tuanya. “Pahit sekali hidup ini kalau kamu hanya seorang lulusan SD. Cukup hanya bapak dan Ibu saja yang merasakan, kamu jangan sampai merasakannya,” kata Taofik menirukan mereka dalam wawancara dengan Media Keuangan. Atas dasar keprihatinan itu, kedua orang tuanya selalu mendorong Taofik dan ketiga kakaknya untuk bermimpi besar. Dorongan semangat untuk meraih masa depan yang lebih cerah mengantarkan Taofik menjalani studi S1 di Jurusan Agribisnis, Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung. Dia menjalani masa belajar di Unpad dengan penuh kesederhanaan. “Saya tinggal di sebuah kamar kos berukuran 1 x 1.5 m dengan uang bulanan yang cukup tidak cukup harus cukup untuk satu bulan,” ujar Taofik.  Hingga tahun keduanya di Unpad, Taofik tak memiliki laptop atau komputer. “Setiap ada tugas, saya pusing bagaimana caranya mengerjakannya, dengan siapa saya meminjam,” kata Taofik mengenang. Pada tahun ketiga, dia mengikuti sebuah perlombaan yang diadakan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bernama Program Mahasiswa Wirausaha. “Saya bikin proposal usaha dan diberikan modal untuk membuat usaha nugget kecil kecilan,” lanjutnya. Usaha nugget yang dirintis Taofik berkembang. Omset awal 200 ribu melonjak hingga pernah mencapai 35 juta perbulan. “Pendapatan dari usaha itu menjadi sumber untuk membayar kuliah dan kos serta membeli laptop dan handphone,” kata Taofik. Mengembangkan usaha sambil kuliah tentu bukan perkara mudah. Setiap hari, Taofik harus bangun jam dua pagi untuk membuat nugget. Selepas subuh, dia sudah mengantarkannya ke kampus untuk dijual. Setelah kerja keras yang tak kenal lelah, Taofik tak bisa melupakan kenangan ketika diwisuda. “Saya menangis sejadi-jadinya. Saya memeluk kedua orang tua dan bilang terima kasih sudah begitu banyak berkorban,” ujarnya. Taofik mampu menyelesaikan studi S1 dalam waktu 3,8 tahun dengan predikat cumlaude.

Gerakan 1000 Sepatu Sekolah            

Selama kuliah di Unpad, Taofik juga aktif dalam kegiatan community development, social movement, dan pengembangan komunitas kreatif. Keaktifannya dalam komunitas sosial berlanjut ketika menjalani perkuliahan S2 di Jurusan Perencanaan Pariwisata, Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan di ITB. Jurusan itu sendiri dipilih Taofik karena dia ingin mengembangkan industry agrowisata di dalam negeri serta bagaimana industri pariwisata khususnya Community Based Tourism bisa menjadi pendekatan dalam pengentasan kemiskinan. Selama di ITB, Taofik aktif dalam Rohis. Saat dipercaya menjadi Koordinator Awardee LPDP ITB dan LPDP Bandung Raya, Taofik dan teman-temannya menggagas beberapa kegiatan sosial. Salah satunya berkolaborasi dengan Komunitas 1000 Sepatu Sekolah. Komunitas ini dipimpin oleh Taofik dan bertujuan menumbuhkan dan menyebarkan semangat belajar meraih cita kepada anak-anak yatim duafa dengan cara memberikan sepatu baru. “Sepatu yang diberikan berasal dari pengrajin sepatu local di Cibaduyut dan Garut yang kami bina dan dampingi,” kata Taofik. Taofik mempunyai alasan tersendiri mengapa komunitasnya memberikan bantuan sepatu kepada anak-anak kurang mampu. “Waktu kita kecil, rasanya semangat sekali ya kalau ke sekolah memakai sepatu baru. Semangat itu yang ingin kami tularkan kepada anak anak,” ujarnya. Yang kedua, harga sepatu dinilai relatif lebih mahal dibandingkan dengan perlengkapan sekolah lainnya, sehingga bantuan ini diharapkan dapat sangat meringankan. Taofik dan para relawan yang kini jumlahnya mencapai seratus orang itu juga memiliki semangat untuk memberdayakan pengrajin sepatu lokal. Pada tahun keenam usia komunitas ini, sekitar lima ribu pasang sepatu sudah dibagikan kepada anak-anak yatim di Provinsi Jawa Barat, Banten, dan Papua.

Penghargaan dari walikota             

Gairah Taofik untuk berkontribusi kepada masyarakat mendapatkan pengakuan dari Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil. Pada akhir 2015, gagasan pemberdayaan masyarakat yang diajukannya terpilih sebagai ide terbaik pada ajang International Conference –Workshop on Design Thinking 2015. Dalam kompetisi itu, peserta ditantang untuk memberikan solusi dan evaluasi atas berbagai persoalan kemasyarakatan dan kebijakan di ibu kota Provinsi Jawa Barat itu. Taofik bersama dua orang temannya membuat konsep bernama Wayang, singkatan dari Wadah Sagala Hayang. Mereka menciptakan prototype sistem aspirasi warga seperti mesin ATM dengan input KTP. Melalui mesin tersebut, warga Bandung dapat menyampaikan aspirasinya terhadap pemerintah kota.

Beasiswa LPDP

Sosial kemasyarakatan tak bisa dilepaskan dari pengalamannya mengikuti Program Kepemimpinan (sekarang bernama Persiapan Keberangkatan) yang diselenggarakan LPDP. Menurut Taofik, kesempatan meraih beasiswa LPDP adalah salah satu pengalaman yang paling disyukurinya. Waktu itu, Taofik sudah diterima di program S2 di ITB. “Ketika saya bingung dan mulai pesimis karena tidak mendapatkan pendanaan, Alhamdulillah saya diperkenalkan oleh dosen pembimbing tentang beasiswa LPDP lewat sebuah pamphlet kecil,” ujar Taofik. Tanpa pikir panjang, dia langsung mendaftarkan diri untuk program beasiswa di sana. Taofik mempunyai harapan besar untuk terpilih sebagai awardee LPDP. Harapan itu sempat hilang ketika dia dinyatakan tidak lolos administrasi. Namun, Tuhan memiliki rencana yang indah baginya. Seminggu setelah email yang menyatakan bahwa dia tidak diterima, datang sebuah email lain yang menyatakan sebaliknya. Hingga kini, Taofik tak pernah berhenti bersyukur jika mengingat peristiwa tersebut. Taofik mengerti benar bagaimana perjuangan menyelesaikan kuliah dengan dana yang sangat terbatas. Maka ketika menjalani perkuliahan di ITB dengan beasiswa yang sangat cukup dari negara, dia tak sungkan berbagi. Taofik memberikan sebagian beasiswanya kepada beberapa teman yang membutuhkan.

Harapan

Saat ini, Taofik sedang bersemangat menjalani profesinya sebagai pengajar di Unpad. Dia bercitacita melanjutkan pendidikan program S3 pada 2017. Di samping itu, Taofik juga terus mengembangkan Gerakan 1000 Sepatu Sekolah yang bertransformasi menjadi Yayasan Sahabat Cinta. “Kami ingin mengembangkan sebuah pendekatan bisnis yang bisa menyelesaikan masalah sosial,” ujar Taofik.

Sumber: Media Keuangan



Leave a Reply

17 − 9 =