Cerita Staf Khusus Menteri Termuda

Danang Rizki Ginanjar mungkin adalah salah satu staf khusus menteri termuda yang pernah dimiliki republik ini. Di usianya yang baru menginjak 32 tahun, Danang—biasa dia disapa—dipercaya oleh Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Sofyan Djalil, mengemban amanah tersebut. Dengan rekam jejak yang cemerlang, kontribusi Danang di dunia pemerintahan sangat menjanjikan. Sudah hampir empat bulan Danang bekerja sebagai staf khusus. Masuk ke dalam dunia birokrasi adalah pengalaman baru baginya. Pria kelahiran Jakarta, 19 November 1983 itu sebelumnya bekerja pada sebuah perusahaan swasta dan membangun start up dari nol hingga beromset milyaran sebelum akhirnya melanjutkan pendidikan S2 di University of Cambridge, Inggris. “Rasanya intriguing,” kata Danang ketika ditanya perasaannya terjun ke dunia pemerintahan. Lulusan Jurusan Planologi dari Institut Teknologi Bandung itu mengungkapkan bahwa institusi pemerintahan saat ini sudah jauh berbeda. Di Bappenas, Danang memberi contoh, kultur pembelajar dan bekerja keras sudah sangat terbentuk. Apalagi 40-50 persen pegawainya merupakan lulusan S2 dan S3. “Setelah di dalam, saya tahu dan lihat betul bagaimana pegawai dari beragam level itu stay di kantor sampai tengah malam untuk bekerja,” ujarnya lagi. Kondisi yang tidak disangka Mantan Ketua Divisi Eksternal Himpunan Mahasiswa Planologi ITB itu membuatnya bukan hanya kagum, melainkan juga bertambah semangat menjalankan tugas.

Danang juga mengapresiasi Menteri Sofyan Djalil yang senang bekerja dengan anak-anak muda. Sebagai staf khusus, Danang diberikan ruang untuk memberikan kontribusi pemikiran terhadap berbagai kebijakan, misalnya pada suatu ketika dia pernah ditugaskan untuk turut membuat presentasi rapat yang dipaparkan dalam rapat kabinet. Untuk mempersiapkan materi tersebut, Danang sempat tinggal di kantor selama tiga hari. Anak muda yang pernah menjadi Ketua Umum Komisi Pemilihan Umum KM-ITB 2004 itu senang menjadi bagian dalam tugas langsung dari menteri. “Pak Sofyan mencari anak-anak muda yang talented untuk dibesarkan dan dikasih ruang untuk berkembang,” kata Danang.

Beasiswa Presiden

Sebelum ditunjuk menjadi staf khusus menteri, Danang telah banyak mencatatkan prestasi membanggakan. Salah satunya adalah menjadi penerima Beasiswa Presiden Republik Indonesia (BPRI) dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). BPRI merupakan beasiswa yang sangat prestisius di mana hanya ada 109 penerima di seluruh Indonesia. Dari jumlah itu, 48 awardee adalah perangkat aparatur pertahanan negara dari militer dan kepolisian. Sementara itu, 61 penerima lainnya adalah masyarakat sipil dari beragam latar belakang. “Alhamdulillah saat itu saya juga terpilih sebagai Ketua BPRI angkatan pertama,” ujar lulusan SMU Insan Cendekia, Serpong itu. Di University of Cambridge, Danang mengambil program Master of Business Administration (MBA). Menurut Danang, kombinasi latar belakang pendidikannya sangat membantu dalam bekerja di lembaga perencana pembangunan. Program MBA di University of Cambridge memiliki kurikulum manajemen yang komplit dan terbaik, mulai dari pemasaran, manajemen operasi, budaya organisasi, hingga pengambilan keputusan. Salah satu pengalaman paling penting yang didapatkan Danang selama menempuh studi di inggris adalah kesempatan untuk terjun langsung mengimplementasikan ilmunya di lapangan. Selama satu bulan, Danang pernah ditunjuk menjadi konsultan senior untuk sebuah BUMN di Brazil. Di sana, dia dan tiga orang mahasiswa Cambridge lainnya membantu jajaran direksi dalam mengembangkan berbagai strategi manajemen untuk produk teknologi yang akan dijual di pasar Brazil dan negara negara Amerika Selatan.

Kampus Harry Potter dan Stephen Hawking

Selain predikat sebagai salah satu kampus terbaik di dunia, kekaguman Danang terhadap University of Cambridge juga timbul karena desain bangunan dan kultur kampus yang sekilas mirip dengan kisah dalam novel Harry Potter. Bangunan-bangunan kastil, jubbah kebesaran, hingga asrama mahasiswa langsung mengingatkannya pada cerita penyihir Hogwarts itu. Menurut mantan anggota Penasehat Perhimpunan Pelajar Indonesia Cambridge itu, selain University of Cambridge, Pengarang JK Rowling juga terinspirasi dengan atmosfir dan kultur kampus University of Oxford.

Yang menarik, Danang berkesempatan mewujudkan mimpi masa remajanya di Cambridge. Impian itu adalah secara tidak sengaja bertemu dengan Ilmuwan Stephen Hawking. “Saya ingat sempat nakal dan mencongkel kaca jendela perpustakaan sekolah supaya bisa membaca ensiklopedia di hari libur,” kata Danang mengenang. Di Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah di kaki gunung di Garut, Danang remaja gemar sekali membaca buku-buku karya Stephen Hawking. Saat duduk di bangku SMA, dia juga pernah menjadi anggota tim olimpiade fisika di sekolahnya. “Saya merinding bisa melihat Stephen Hawking secara langsung,” ujarnya.

Ketua Mata Garuda

Belum lama ini, Danang terpilih sebagai Ketua Ikatan Alumni Penerima Beasiswa LPDP, Mata Garuda. Pada masa kepemimpinannya, Danang ingin mewujudkan misi internally inclusive, externally professional bagi Mata Garuda. “Hakikat ikatan alumni itu persaudaraan, kebersamaan, dan keakraban,” kata Danang. Dia berharap Mata Garuda secara internal dapat mengayomi anggotanya dan secara eksternal dapat menjadi organisasi yang profesional. Ada tiga kontribusi yang akan menjadi fokus Mata Garuda, yaitu social kemasyarakatan, kemitraan strategis sektor pemerintahan, dan swasta. Program sosial seperti Kado untuk Anak Indonesia akan dilanjutkan. Di samping itu, Mata Garuda juga akan lebih berkontribusi dalam pengaplikasian riset yang langsung bermanfaat bagi masyarakat hingga di perdesaan. Sementara di sektor pemerintahan, Danang berharap anggota Mata Garuda dapat secara langsung turut berkontribusi menyelesaikan berbagai tantangan yang dihadapi pemerintah, termasuk di daerah. Di sektor swasta, Danang mendorong anggota Mata Garuda yang memiliki semangat untuk mendirikan start up dan menjadi wirausaha. “Alumni yang menciptakan lapangan pekerjaan akan kita dukung,” kata Danang yang semasa kuliah S2 juga aktif dalam Cambridge Consulting Special Interest Group. 

Rencana Masa Depan

Saat ini Danang sedang sangat bersemangat menjalani amanah sebagai staf khusus menteri. Di masa depan, Danang memiliki rencana untuk melanjutkan pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi. “Kalau kita tidak senantiasa melakukan up grade terhadap diri, nanti kita akan tertinggal,” ujar Danang. Di samping melanjutkan pendidikan S3, Danang juga masih memiliki mimpi untuk memperolah satu lagi gelar S2.

 

Sumber: Media Keuangan



Leave a Reply