Cita-Cita Tak Terhalang Kursi Roda

Impian Antony Tsaputra untuk mengunjungi negeri-negeri yang jauh sempat menjadi tertawaan salah seorang temannya di bangku SMP.”Bagaimana kamu bisa ke luar negeri kalau ke sekolah saja selalu didorong dengan kursi roda? Apa sanggup ibumu mendorong sampai jauh?” begitu Antony—biasa dia disapa—mengenang perkataan kawannya. Berkat kegigihan dan kerja keras bertahun-tahun, penyandang disabilitas dengan severe physical impairment itu menjawab olokan di masa remaja dengan menjadi kandidat doktor dari University of New South Wales (UNSW) di Sidney, Australia. “Saya selalu lebih mempercayai pertolongan Tuhan dan usaha sendiri dibandingkan ucapan orang lain,” katanya dalam wawancara dengan Media Keuangan belum lama ini. Yang mengesankan, Antony menempuh pendidikan S1, S2, dan S3 tanpa biaya sendiri. Antony meraih gelar sarjana dari Universitas Andalas, Padang pada 1998 dengan skema Beasiswa Bung Hatta. Dia melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 di Griffith University, Queensland melalui pembiayaan penuh plus disability package dari pemerintah Australia pada 2010. Tiga tahun berselang, kesempatan untuk mengikuti program fellowship tentang Disability Policy di University of Sydney datang padanya. “Saya juga mendapatkan kesempatan sebagai satu-satunya penyandang disabilitas yang mengikuti program professional fellowship on legislative process and governance di Amerika Serikat pada 2014,” kata pria kelahiran 19 Desember 1976 itu.

Dengan beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Antony kini berjuang menyelesaikan program S3 di UNSW. Topik penelitian disertasinya adalah tentang penganggaran pemerintah yang inklusif terhadap penyandang disabilitas (Disability Inclusive Budgeting). Di Sidney, Antony tinggal bersama istri dan ayahnya. LPDP memberikannya anggaran tambahan untuk kebutuhan khusus penyelesaian studi didampingi oleh keluarga. Menurut Antony, keluarganya sempat sangsi jika beasiswa LPDP bersifat inklusif terhadap penyandang disabilitas. Dia pun perlu meyakinkan mereka bahwa akan lebih membanggakan jika bersekolah di luar negeri dengan biaya pemerintah sendiri. “Sekaligus juga untuk menunjukkan kepada dunia bahwa beasiswa dari pemerintah Indonesia juga bisa merata, termasuk untuk penyandang disabilitas berat seperti saya,” ujar Antony.

Seleksi dan persiapan keberangkatan

Berbagai tantangan dilewati Antony saat menjalani proses seleksi dan persiapan keberangkatan (PK) LPDP. Salah satu yang diingatnya adalah tempat seleksi substantif waktu itu tidak aksesibel bagi pengguna kursi roda. Tangga yang sangat banyak dan tinggi harus dilalui untuk sampai di ruang tes. “Saya digendong naik turun tangga bergantian oleh ayah dan seorang teman sesama peserta yang baru berkenalan pada hari itu. Namun, kondisi yang demikian tidak menyurutkan semangat saya,” kata Antony. Hal yang sama terjadi lagi saat PK, di mana sebagian kegiatan diadakan di ruangan yang berada di lantai dua tanpa akses untuk kursi roda. LPDP sebelumnya telah memberikan dispensasi bagi Antony untuk tidak mengikuti PK mengingat keterbatasan yang dimilikinya. Namun, dia tak ingin mendapatkan perlakuan istimewa. Menurut Antony, PK adalah kesempatan belajar berharga yang tidak boleh dilewatkan. “Penyandang disabilitas memang memiliki kebutuhan khusus, tapi bukan berarti harus dikecualikan,” ujarnya. Antony mendapatkan pengalaman sangat berharga karena bertemu dengan teman-teman yang luar biasa pada penyelenggaraan PK ke-22 oleh LPDP. Mereka dengan ikhlas dan bersemangat menggendong Antony di atas kursi roda sambil naik dan turun tangga sejak hari pertama hingga penutupan PK. “Baru pertama kali dalam hidup, saya mengalami rasa persaudaraan yang sangat kuat di antara para awardee dari berbagai daerah dan etnis di seluruh Indonesia,” kata Antony.

Kebijakan disabilitas

Antony memiliki ketertarikan yang besar untuk mendalami disability policy atau kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan disabilitas. Apalagi hingga saat ini, dia masih menjadi bagian dari pemerintah, tepatnya sebagai aparatur sipil negara di Dinas Sosial Kota Padang. “Saya meneliti bagaimana potensi penganggaran pemerintah yang berpihak kepada penyandang disabilitas bisa membantu merealisasikan pemenuhan hak-hak mereka dalam berbagai sektor, bukan lagi hanya dalam ranah rehabilitasi sosial,” tutur Antony. Potensi ini dikaji dari sisi pemerintah, organisasi disabilitas, dan masyarakat disabilitas itu sendiri. Menurut Antony, sejak diratifikasinya United Nations Convention on the Rights of Persons with Disabilities pada 2011 oleh pemerintah, arah disability policy di Indonesia dituntut untuk berubah. “Tepatnya perubahan perspektif dari sebelumnya penyandang disabilitas dianggap sebagai kelompok charity based menjadi rights based,” ujar Antony. Dengan demikian, penyandang disabilitas harus dilihat tidak lagi sebagai masyarakat pasif, tidak berdaya, dan harus selalu dibantu, tetapi sebagai warga negara aktif yang juga bisa berpartisipasi dalam pembangunan.

Dukungan kampus dan keluarga

Antony mengungkapkan bahwa physical impairment (kondisi fisik yang tidak bisa diperbaiki) bukanlah hambatan untuk menyelesaikan pendidikan. Keinginan kuat ditambah dukungan keluarga yang sangat besar menjadi kekuatan luar biasa untuk mengatasi hambatan dan tantangan apapun. “Apalagi di Australia, kondisi fisik saya tidak begitu menjadi penghalang karena ketersediaan reasonable accommodation berupa assistive technology dan aksesibilitas di berbagai fasilitas umum dan sarana transportasi untuk penyandang disabilitas,” katanya. Kedua pembimbing Antony juga berperan besar, bukan hanya membantu dalam sisi akademik, melainkan juga seluruh aspek yang dapat menunjang kelancaran studi. Antony bersyukur karena keluarganya juga sangat suportif. “Istri dengan ikhlas dan tidak pernah lelah selalu mendampingi saya yang membutuhkan perawatan 24 jam,” ujarnya. Bahkan terkadang sang istri sampai tertidur di bawah meja kerja Antony pada malam yang larut. “Begitu juga ayah dan ibu saya yang dengan sabar dan ikhlas harus berpisah sementara karena ayah ingin terus membantu istri mengurus saya, seperti menggendong dari dan ke kursi roda,” kata Antony menambahkan. Di samping berkuliah, Antony aktif menjadi anggota tetap UNSW International Students Sub Committee for Equity, Diversity, and Inclusion. “Saya juga ditunjuk sebagai penanggung jawab program difabel untuk PPIA (Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia) Pusat,” ujarnya. Tahun lalu, organisasi itu membantu pemasaran produk kerajinan hasil karya penyandang difabel dari Sumatera Barat di Australia.

Harapan

Melalui perjuangannya mewujudkan cita-cita, Antony ingin menyampaikan pesan bahwa pendidikan dan pengetahuan menjadi modal penting bagi para penyandang disabilitas untuk bisa hidup mandiri. “Di samping itu, saya juga ingin memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa penyandang disabilitas adalah kelompok yang berdaya dan mampu berkontribusi untuk keluarga, lingkungan sekitar, masyarakat, dan negara,” kata dia. Disabilitas, Antony menambahkan, tidak akan pernah menjadi penghalang selama seseorang memiliki keinginan kuat mewujudkan impian dan selalu berprasangka baik kepada Tuhan. Di masa depan, Antony bercita-cita membangun disability research centre untuk ikut berkontribusi mengembangkan disability studies di dunia penelitian tanah air. “Saya berharap hasil riset sesudah selesai studi S3 nanti bisa menjadi salah satu referensi pemerintah dalam pengembangan disability inclusive policy yang semakin baik,” katanya menutup perbincangan.



Leave a Reply