Delegasi Harvard dalam Peninjauan Kesehatan Afrika hingga Perwakilan Angkatan untuk Berpidato saat Wisuda di Harvard

“Bercita-citalah setinggi mungkin, karena batasan kita hanya ada dalam pikiran,”⁣ semangat dari Ibu itulah yang menemani hari-hari Nadhira melewati berbagai tantangan.

Tahun 2020 sangat berkesan, sebagai satu-satunya orang Indonesia di Harvard School of Public Health, Nadhira terpilih mewakili angkatannya menyampaikan pidato wisuda di Harvard University (cuplikan: https://www.hsph.harvard.edu/graduation-2020/) . Rasa bahagia menyelimuti perasaan Nadhira karena berkesempatan membawa nama bangsa untuk dikenal dunia.

Bagi Nadhira, berkuliah di Harvard seperti membuka jendela ke berbagai kesempatan berharga. “Banyak sekali hal luar biasa yang saa dapatkan, mulai dari network dengan teman-teman dari berbagai belahan dunia; para guru yang ahli di bidangnya; berbincang-bincang dengan para pemimpin organisasi dunia, menteri kesehatan, presiden; menjadi delegasi ke PBB; ikut conference dan study trip ke berbagai negara dengan gratis; hingga diakhiri dengan kesempatan menjadi orang Indonesia pertama yang berpidato di wisuda Harvard.”

Saat berkuliah di Harvard, Nadhira pun berkesempatan mengharumkan nama Indonesia dengan menjadi Juara 1 (Grand Prize Winner) pada kompetisi MIT Innovation in Global Health Systems Hackaton. Nadhira bersama I Made Subagiarta yang juga awardee LPDP, menciptakan sebuah ide upaya mengurangi tingkat malnutrisi anak di Indonesia melalui penggunaan smartphone app yang diciptakan untuk para ibu. Ide tersebut memperoleh apresiasi tinggi dari panelis dan peserta hingga kompetisi usai dilaksanakan.

 

Dengan ilmu nutrisi yang didalaminya, Nadhira pun berkesempatan menjadi delegasi Harvard meninjau kebijakan-kebijakan kesehatan di Tanzania-Afrika terkait penanganan malnutrisi pada remaja. Kemudian Nadhira juga memberikan rekomendasi terkait program apa yang perlu dilakukan untuk memperbaikinya. Nadhira kini semakin memahami betapa pentingnya implementasi, monitoring, dan evaluasi dari kebijakan kesehatan, sampai pengalaman interaksi dengan masyarakat dari mulai warga sipil hingga staf pemerintahan.

Sebelum mengikuti beasiswa LPDP, Nadhira sempat mengabdi di sebuah wilayah Nusa Tenggara Barat dan tidak lama setelahnya terjadinya peristiwa gempa bumi besar di wilayah tersebut, Nadhira yang sebelumnya berpraktik di puskesmas memperoleh tugas untuk terjun di beberapa posko untuk membantu para korban. Nadhira juga sempat menjadi volunteer di Jepang memberi bantuan pengobatan massal untuk para homeless di daerah Tokyo bersama para dokter mancanegara.

Sekembalinya dari studi S2 di Harvard, Nadhira langsung disibukkan penyusunan dan pengembangan ide teknologi terkait penanganan covid-19 hingga diskusi bersama Gubernur DKI Jakarta. Ide teknologi berbasis machine learning tersebut kini telah dapat digunakan oleh masyarakat melalui fitur JAKCLM di JAKI mendukung Jakarta Smart City.

Ke depan, Nadhira akan mengoptimalkan ilmunya untuk berkontribusi bagi negeri di Bidang Kesehatan. “Dengan gelar ini, saya resmi berlaku sebagai seorang dokter umum dan Public Health expert. Saya berencana untuk tetap mengamalkan ilmu saya di kedua bidang tersebut secara seimbang. Saya akan mengamalkan ilmu public health saya dengan bekerja dalam institusi pemerintah, sambil tetap berpraktik part time sebagai dokter umum di Rumah Sakit. Saya harap kedua hal tersebut dapat membantu Indonesia dalam menyelesaikan masalah-masalah kesehatannya, terlebih pandemi COVID-19 yang sedang melanda saat ini.”

Semangat, Nadhira!

#DiriUntukNegeri #AwardeeStory



Leave a Reply