Jalan Menuju Keberhasilan

Saya Rahmat Putra Yudha alumni LPDP pada university of Wollongong Australia program Teaching English to Speakers of Other Languages (TESOL). Saya terlahir dari keluarga broken home dengan ekonomi menengah kebawah. Hidup bersama ibu yang menjalani peran single parent. Untuk menutupi kebutuhan, sejak SMA sampai di jenjang S1, saya bekerja sampingan sebagai tukang parkir dan jaga malam.

Sejak berkuliah S1, saya selalu bermimpi untuk dapat merasakan studi di luar negeri. Sejak saat itu saya mendaftar banyak program pertukaran pelajar. Karena antusias untuk kuliah di luar negeri, saya sering mengikuti pameran/expo pendidikan luar negeri, meski waktu untuk lulus kuliah S1 masih lama. Di kegiatan pameran-pameran yang saya ikuti, saya bertemu perwakilan dari University of Wollongong Australia yang menawarkan program studi M.Ed Tesol. Saya pulang mengantongi booklet dari mereka dan saya lingkari jurusan Tesol sembari berdoa agar suatu hari nanti bisa kuliah di sana. Setelah itu booklet tersebut saya simpan di lemari pribadi.

Pada tahun 2008, saya menyelesaikan program S1 saya di Universitas Tanjungpura, Pontianak. Sejak saat itu, setiap waktu saya habiskan waktu untuk mendaftar beasiswa. Hari demi hari saya lalui tahap seleksi beasiswa dan selalu menemui kegagalan. Setiap notifikasi ketidaklulusan yang diterima baik melalui email dan surat, saya cetak dan tempel di dinding kamar.

Pada tahun 2009, saya diterima sebagai PNS guru Bahasa Inggris di Pemkot Pontianak. Keinginan mengambil S2 mendapatkan beasiswa pun semakin besar. Pada tahun 2010, secercah cahaya mulai terlihat. Saya dapat lolos sampai tahap interview di beberapa lembaga penyedia beasiswa. Akan tetapi, setelah pulang-pergi menjalani interview, lagi-lagi saya masih gagal mendapatkan beasiswa. Entah sudah berapa puluh kali, tapi saya tidak pernah menyerah. Hari demi hari saya habiskan di warnet dengan hanya menulis dua kata di google, yaitu beasiswa dan scholarship. Ada keahlian yang di dapat dari mencoba dan mencoba, yaitu pertama saya menjadi lebih introspeksi dan memperbaiki diri agar pantas mendapatkan beasiswa sesuai dengan ekspektasi yang diharapkan sebagai penerima beasiswa.

Setelah sekian lama mencoba berulang-ulang, saya mulai mendapat banyak saran dari orangtua, saudara, serta teman sejawat untuk mengakhiri usaha yang sepertinya sia-sia. Suatu pagi Ibu saya meminta untuk mengecat ulang kamar saya yang sudah tak terlihat warna catnya karena tertimpa tempelan kertas notifikasi ketidaklulusan beasiswa. Permintaan ibunda itu merupakan modus agar saya move on dan tidak mengingat-ingat soal ketidaklulusan besiswa tersebut. Walaupun begitu, saya tetap mengikuti kemauan ibunda. Saya ambil satu persatu kertas hasil ketidaklulusan tersebut dan iseng menghitunnya. Yang membuat saya terkejut adalah, terdapat 118 kertas notifikasi yang berarti 118 kali saya gagal.

Meski begitu, saya tetap percaya bahwa saya bisa mendapakan beasiswa, dan saya terus mencoba dengan selalu memperbaiki diri di setiap proses pendaftaran. Sampai akhirnya saya mendapatkan informasi beasiswa LPDP. Pada beasiswa LPDP saya melihat ada syarat tidak wajib yaitu melampirkan LOA dari kampus yang dituju. Walau sifatnya opsional, saya ingin memaksimalkan kriteria yang diminta agar saya dapat memberi yang terbaik untuk proses pendaftaran. Sejak saat itu saya mulai berburu LOA dari berbagai kampus di luar negeri. Singkat cerita, saya mendapatkan lebih dari 8 LOA dari berbagai Negara.

Puji syukur saya panjatkan kepada Allah, doa dan usaha saya akhirnya terjawab: LPDP menerima saya sebagai penerima beasiswa. Setelah 119 kali berjuang dan gagal, akhirnya usaha saya menghasilkan buah yang manis. Yang lebih mengejutkan setelah itu adalah saya juga diterima di beberapa program beasiswa bergengsi untuk tujuan negera-negara Eropa. Dengan berbagai pertimbangan, saya putuskan untuk mengambil beasiswa LPDP. Kejutan terakhir yang Allah siapkan untuk saya adalah akhirnya saya kuliah di University of Wollongong Australia di jurusan Tesol. Kampus dan jurusan yang sudah saya tuliskan dan simpan dalam secarik kertas sejak tujuh tahun sebelumnya.

Kita tidak pernah tahu apa yang bisa kita capai jika kita terus menolak untuk menyerah. Thomas Alva Edison harus gagal ratusan/ribuan kali sampai dapat menemukan bola lampu seperti sekarang. Begitu juga dengan para penemu lainnya. Kegagalan bagi banyak orang sejatinya adalah jalan jauh yang harus ditempuh untuk menuju kesuksesan. Yang perlu kita lakukan adalah menapaki jalan itu selangkah demi selangkah dengan kesabaran. Jadi jangan pernah menyerah dan terus berjuang untuk meraih cita-cita kita.

Penulis: Rahmat Putra Yudha, M.Ed TESOL (Awardee LPDP program Magister di University of Wollongong, Australia)