Keterbatasan Ekonomi Bukan Penghalang untuk Meraih Mimpi

Perkenalkan nama saya Abdul Kadir, ingin berbagi cerita tentang arti sebuah perjuangan yang saya jalani. Saya anak ke 7 dari 8 bersaudara, lahir di Dusun Kadungdung, Madura, Jawa Timur. Ibu dan Almarhum Bapak adalah seorang buruh tani. Emak sempat menempuh pendidikan tingkat SD dan Bapak tidak sekolah. Begitu juga dengan saudara saya yang lain, kakak 1-6 tidak melanjutkan pendidikan karena memilih untuk bekerja dan menikah. Adik saya pun mengikuti jejak mereka, karena memilih untuk bekerja sebagai joki karapan sapi.

Di masa kecil saya hidup di rumah berdindingkan bambu, beralaskan tanah dan tidur tanpa kasur. Kami tidur di atas ranjang dari bambu dilapisi tikar, orang Madura memanggilnya “lencak”. Ciri khas kehidupan kami adalah mencari kayu bakar dan memasak di sebuah tungku. Untuk urusan minum, kami langsung mengambil air dari sumur tanpa harus dimasak lagi.

Ketika saya duduk di kelas 6 SD, sedih saya rasakan ketika melihat semua kakak saya berhenti sekolah untuk membantu keluarga. Saya sangat kebingungan karena tetap ingin sekolah. Dalam kondisi seperti itu, Bapak secara tidak terduga berpesan pada saya, “Cukup kakak-kakak mu yang berhenti sekolah. Bapak yakin kamu memiliki keinginan sekolah, terus kejar mimpimu dalam kondisi apapun”. Kondisi ini menjadi motivasi tersendiri dan membuat saya berkomitmen untuk bisa merubah nasib keluarga di masa depan. Terlebih paman saya juga mengatakan hal yang mirip, “Nak, liat kondisi keluargamu, siapa yang bakal merubah kalau bukan kamu?” Saya selalu berkaca-kaca ketika teringat motivasi dari beliau.

Setelah lulus dari SMP, saya memutuskan untuk melanjutkan di SMAN 1 Pamekasan karena informasi salah satu sahabat SMA tersebut banyak membuat siswanya berkiprah di dunia Internasional. Ada sedikit keraguan yang terpancar dari wajah Ibu. Namun dengan spontan beliau berkata, “Selama kamu masih semangat untuk mengejar mimpimu nak, Ibu selalu restui”.

Hal yang paling mengharukan dan menyedihkan adalah, sehari setelah pengumuman,saya harus membayar uang seragam yang cukup besar.  Saat kembali ke rumah, saya tidak menginformasikan untuk membayar kebutuhan seragam tersebut. Akan tetapi Ibu menghampiri dan memberikan sejumlah uang seraya berkata “Ini nak untuk mencukupi kebutuhan sekolahmu.” Saya bertanya dari mana uang tersebut, ternyata Ibu menjual sapi peliharaannya. Tidak bisa berkata apapun dan air mata tak terbendung melihat perjuangan seorang Ibu seperti ini.

Perjuangan semakin berat ketika kelas XII saya menghadapi kondisi demotivasi. Paman yang selalu memberikan motivasi meninggal dunia dan sebulan kemudian bapak juga harus menyusul paman. Hal ini membuat saya terpuruk dan semangat menurun.  Namun, dukungan dari keluarga, guru dan sahabat bisa kembali mengingat pesan dan motivasi dari mereka. Tidak mau lama terlarut dalam keterpurukan, saya kembali mengejar target untuk bisa meraih impian yang diinginkan. Saya mulai meningkatkan kemampuan dalam hal akademik sebagai persiapan menuju jenjang sarjana dengan mengikuti kegiatan organisasi siswa seperti “Karya Ilmiah Remaja”. Salah satu pencapaian nya adalah saya berhasil meraih juara II Lomba Karya Tulis Ilmiah Tingkat Nasional diselenggarakan oleh salah satu universitas di Surabaya.

Ketika lulus SMA, saya pun harus mulai berpikir tentang jenjang S1 karena tidak pernah terbesit sekalipun mau kuliah dimana. Akhirnya saya sering berkonsultasi sampai menemukan titik terang dari pihak sekolah.  Terdapat berbagai pilihan universitas yang diinformasikan pada waktu itu. Hal yang membuat saya merasa tertantang adalah ketika disampaikan informasi mengenai Universitas Indonesia, dimana kampus ini sudah tidak asing lagi dan banyak diminati. Tepat waktu itu, jalur masuk adalah lewat jalur undangan yang dibuka serentak se-Indonesia.

Namun, kembali lagi dengan pertimbangan ekonomi, saya khawatir dan merasa tidak percaya diri untuk mendaftar di Universitas tersebut. Di sisi lain ada rasa penasaran ketika saya mencari informasi lebih detail terkait persyaratan masuk, jurusan dan biaya kehidupan disana. Akhirnya, saya memberanikan diri untuk berkonsultasi tentang universitas ini lebih mendalam. Salah satu pesan seorang guru yang saya ingat adalah “Kalian adalah siswa yang memiliki prestasi yang sangat mumpuni untuk bisa masuk ke Universitas Indonesia, jangan kalian pikirkan kondisi ekonomi keluarga. Sekarang hanya kalian yang bisa menentukan, ambil risiko dan berjuang untuk masuk, atau tidak pernah mencoba sama sekali”. Motivasi ini menjadi sebuah cambuk. Beberapa hari kemudian, titik terang pun muncul untuk menjawab kekhwatiran saya mengenai permasalahan ekonomi.  Terdapat beasiswa bagi masyarakat Indonesia yang memiliki keterbatasan ekonomi yaitu beasiswa Bidik Misi. Saya pun mendaftar dan diterima di Universitas Indonesia, Jurusan Kesehatan Masyarakat.

Masa kuliah adalah masa yang paling menantang. Saya harus pandai mengatur masalah keuangan. Pernah kala itu saya dan teman sekampung halaman menghadapi masalah keuangan, kami harus berbagi makanan dan berpusing bersama dikamar. Kadang hanya makan nasi dioles dengan mentega.

Namun, hal penting yang saya dapat dimasa kuliah adalah visi dan misi dari beasiswa Pemerintah Indonesia untuk menjadi mahasiswa yang berkarakter sangat lah bagus. Misalnya. Saya dituntut tidak hanya fokus pada bidang akademik saja, melainkan bagaimana saya bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Jalan yang saya pilih untuk melatih itu semua adalah dengan terlibat di kegiatan organisasi kemahasiswaan. Saya tergabung di Sosial Masyarakat di Badan Eksekutif Mahasiswa selama 2.5 tahun masa perkuliahan. Melalui bidang ini saya, pernah terlibat dengan menjadi Project Master FKM UI peduli dan kegiatan sosial lainnya seperti Rumah Belajar dan Kakak Asuh (RUJAK), Donor Darah dan lain sebagainya. Saya juga pernah terlibat di kegiatan luar kampus yaitu dengan menjadi Work Leader Jepara Work Camp oleh Leprosy Care Community di Desa Donorojo. Melalui kegiatan inilah saya selalu bisa merasakan bahwa sejatinya kita adalah makhluk sosial dan selalu bermanfaat untuk orang-orang sekitar. Di tahun terarkhir masa perkuliahan, saya diamanahkan menjadi General Leader Occupational Health and Safety Community, yaitu himpunan mahasiswa Peminatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

Dalam hal akademik, saya bisa menyelesaikan masa studi S1 dengan waktu tempuh 3.5 tahun dan pernah menjuarai Juara I lomba Karya Tulis Ilmiah tingkat Nasional yang diselenggarakan salah satu universitas negeri di Jakarta. Dengan pencapaian ini, keterbatasan bukanlah menjadi penghalang untuk bisa sukses. Saya hanya bisa bersyukur bisa berjuang selama 3.5 tahun untuk menyelesaikan kuliah demi keluarga. Salah satu impian terbesar yang diraih saat ini yaitu bisa mewujudkan mimpi untuk menyelesaikan gelar sarjana. Salah satu impian yang terselesaikan untuk mengenakan toga yang bahkan tidak pernah dirasakan oleh keluarga saya yang lain. Terimakasih Bidik Misi dan rakyat Indonesia.

Untuk saat ini dengan penuh perjuangan saat mendaftar beasiswa LPDP, dan akhirnya dinyatakan sebagai salah satu awardee. Saya merasa bersyukur bisa diberikan kesempatan untuk mengikuti pelatihan Pengayaan Bahasa (PB) untuk persiapan test IELTS dan bahasa Inggris selama 6 bulan, serta Persiapan Keberangkatan (PK) sebagai bekal persiapan sebelum menempuh pendidikan di universitas tujuan masing-masing. Saat ini, saya sedang menumpuh pendidikan untuk jenjang S2 di National University of Ireland, Galway dengan jurusan Occupational and Environmental Health & Safety melalui beasiswa LPDP Afirmasi. Lima bulan berjalan disemester satu ini berbagai tantangan dihadapi seperti bahasa, metode pembelajaran, kebutuhan makanan dan lain sebagainya. Besar harapan saya adalah bisa memegang amanah pemerintah dan rakyat Indonesia untuk bisa menyelesaikan studi tepat waktu dengan pencapaian yang baik.

Kedepan saya mempunyai rencana dan impian untuk membuat community development di Pulau Madura dan berkontribusi diinstansi pemerintah guna mengimplementasikan keilmuan yang saya dapatkan. Semoga impian dan cita-cita ini bisa diimplementasikan.

“Janganlah takut melampaui keterbatasannmu, lawanlah ketakutanmu, dan percayalah kita diberi kemampuan dan ilmu oleh siapa. Teruslah berikhtiar dan berdoa atas apa yang sudah kita pilih dan selalu istiqomah atas apa yang kita lakukan. Tetap semangat meraih mimpi mu!” Abdul Kadir

Penulis: Abdul Kadir (Awardee LPDP program Magister di Occupational and Environmental Health & Safety, National University of Ireland, Galway).



Leave a Reply