Mahasiswa Doktoral Muda Indonesia Memimpin Eksperimen Plasma Wakefield di Oxford

Jam telah menunjukkan pukul enam sore, ketika Muhammad Firmansyah Kasim dan teman-temannya kembali tiba di Kota Oxford. Firman tengah sibuk bolak-balik Oxford-Didcot di Inggris untuk melakukan eksperimen yang menjadi bagian program S3 di Departemen Fisika University of Oxford. Selama lima hari dalam seminggu, penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) tersebut melakukan percobaan laser berdaya tinggi yang ditembakkan ke gas. Setelah ditembakkan, elektron dan inti atom dari gas tersebut akan lepas. “Kumpulan elektron dan inti atom yang terlepas disebut plasma. Unsur plasma itu yang menjadi obyek eksperimen kami” kata Firman dalam wawancara melalui Skype dengan Media Keuangan.

Yang hebat, Firman dipilih oleh supervisornya di kampus untuk memimpin eksperimen plasma wakefield itu. Di dalam tim, anak bungsu dari empat bersaudara tersebut merupakan satu-satunya mahasiswa Indonesia. Lima orang anggota peneliti lain terdiri atas tiga orang mahasiswa Inggris dan satu orang mahasiswa Amerika Serikat yang sama-sama tengah menempuh S3 serta satu orang peneliti berkebangsaan Perancis yang sedang menyelesaikan post-doctoral. Firman mengungkapkan eksperimen yang dilakukannya dapat digolongkan dalam kategori basic science. Dalam basic science, aplikasi yang menjadi hasil eksperimen bukan hal utama. Pemuda kelahiran Makassar, 26 Januari 1991 itu mencontohkan eksperimen gelombang elektromagnetik yang dilakukan oleh para ilmuwan pada periode 1800-an. Pada saat itu, para ilmuwan tak dapat memperkirakan dengan pasti ujung penelitian tentang gelombang elektromagnetik. Namun, mereka terus melakukan penelitian. Dua ratus tahun kemudian, Firman bercerita, gelombang elektromagnetik menjadi bagian yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan seharihari manusia. “Aplikasi dari eksperimen plasma wakefield bukan hal yang terlalu kami pikirkan. Ekspektasi kami adalah dapat melihat struktur plasma dan menjalankan eksperimen ini tepat waktu,” kata dia. Namun, Firman menambahkan penelitiannya berpotensi dikembangkan untuk menghasilkan sumber X-Ray dengan intensitas tinggi dalam media berukuran lebih kecil.

Jatuh cinta pada fisika

Sejak duduk di bangku SMP, Firman sudah menekuni bidang Fisika. Beberapa prestasi internasional pun pernah diraihnya, antara lain medali emas di 38th International Physics Olympiad, Juli 2007 di Isfahan, Iran dan medali emas di Asian Physics Olympiad (APhO) di Shanghai, Tiongkok, April 2007. Di samping itu, Firman tergabung dalam tim olimpiade sains di bawah bimbingan Yohannes Surya sejak masih bersekolah di bangku SMP. Karena prestasinya yang bagus, dia kembali masuk dalam tim olimpiade tingkat SMA. “Di situ saya jatuh cinta pada Fisika,” kata Firman. Selepas SMA, Firman bercita-cita melanjutkan kuliahnya di Institut Teknologi Bandung (ITB). Yang menarik, dia sempat ditolak saat masuk melalui jalur bebas tes untuk pemenang olimpiade tingkat nasional. “Sertifikat yang saya punya berasal dari olimpiade tingkat internasional, sedangkan yang tersedia di ITB jalur untuk pemenang olimpiade tingkat nasional,” ujar Firman. Namun, dia tak menyerah. Ujian saringan masuk reguler di kampus yang sama dijajalnya. Lewat jalur tersebut, Firman akhirnya diterima di Jurusan Teknik Elektro ITB. Sejak SMP dan SMA, Firman sudah terbiasa tinggal berjauhan dengan orang tua. Banyaknya latihan di pusat pelatihan tim olimpiade mengalihkan kesedihannya berpisah dengan ayah dan ibu. Karena berpengalaman hidup mandiri, ketika harus menempuh studi di Bandung, Firman sudah tak perlu banyak menyesuaikan diri.

Magang di CERN

Setelah lulus dari ITB, Firman berkesempatan magang di Conseil Europene pour la Recherche Nucleaire (CERN) di Jenewa, Swiss. Program magang di CERN diikuti sekitar 250 mahasiswa dari seluruh dunia yang telah melalui seleksi. Pada bulan Juni-Agustus 2013, Firman menetap di Jenewa. CERN pada saat itu memiliki empat eksperimen utama. Selama magang, Firman antara lain bertugas membuat website untuk memuat data-data eksperimen. “Saya jadi belajar fisika sekaligus programming di sana,” kata dia. Firman termasuk orang Indonesia yang paling awal bekerja di CERN. Saat dia dan kedua temannya magang, hanya ada satu orang Indonesia yang sedang bekerja di lembaga prestisius itu. Dia adalah Suharyo Sumowidagdo, Peneliti LIPI yang sekaligus menjadi supervisor Firman selama magang.  Periode magang di CERN bersamaan dengan wisuda di ITB. Oleh karena itu, pengagum komedian John Oliver itu mesti merelakan diri tak ikut wisuda. Meskipun sempat bersedih, Firman tak menyesali keputusannya. Seolah menjadi ganti absen dalam wisuda, Firman mendapatkan informasi penerimaan mahasiswa S3 di University of Oxford.

Beasiswa LPDP

Pengalaman di CERN membuka jalan Firman untuk berkuliah University of Oxford. Dari Jenewa, dia kemudian berkoordinasi dengan kakak-kakaknya mengurus syarat-syarat pendaftaran beasiswa LPDP. Kebetulan, kakak ketiganya telah mendapatkan beasiswa yang sama terlebih dahulu. “Kakak-kakak di Makassar banyak membantu, terutama untuk syarat dokumen. Saya mengurus apa yang bisa dilakukan dari Jenewa,” kata Firman. Di dalam essai, Firman tak lupa menuliskan keinginannya melakukan eksperimen laser, apa yang dikerjakannya di CERN, dan pengalamannya bergelut di dunia Fisika sejak lama. Di Subdepartemen Fisika Partikel, terdapat sebelas mahasiswa S3 seangkatan Firman. Firman adalah satu-satunya mahasiswa Indonesia di sana. Di samping itu, dia juga menjadi orang Indonesia pertama yang aktif di Lembaga Penelitian Fisika Partikel di University of Oxford. Pada jangka panjang, Firman berharap dapat pulang ke tanah air dan mengabdikan diri menjadi peneliti.

Sumber: Media Keuangan



Leave a Reply