Mahasiswa Indonesia di Markas Energi Dunia

Kesempatan melanjutkan studi di Inggris dengan beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) seolah menambah daftar pengalaman Almo “berpetualang” di negeri orang. Saat mendaftar program beasiswa LPDP tahun 2013, Almo sedang bekerja di Perusahaan Minyak Malaysia, Petronas. “Saya harus terbang bolak-balik Kuala Lumpur dan Jakarta selama proses seleksi,” ujar Almo. Usahanya berbuah manis. Almo menjadi salah satu anak bangsa pada kloter pertama yang diberangkatkan LPDP untuk belajar di luar negeri. Kampus yang menjadi pilihan Almo adalah University College London (UCL) di London. Di sana, dia mengambil jurusan Economics, Policy of Energy, and the Environment. Program S2 yang ditempuh pria kelahiran Dili, 20 September 1985 tersebut masih terkait dengan gelar yang dimilikinya sebagai Sarjana Teknik Perminyakan dari Universitas Trisakti. Almo lulus dari universitas itu dalam waktu 3,5 tahun dan setelahnya langsung diterima bekerja di Petronas. Selama tujuh tahun bergabung di perusahaan plat merah Negeri Jiran, Almo sempat berpindah tugas ke Mesir, Mauritania, Perancis, dan Vietnam. Jurusan yang diambil Almo di UCL membuka horizon berpikirnya bahwa persoalan energi bukan hanya menyangkut urusan produksi, melainkan juga penyusunan kebijakan, factor ekonomi, dan keberlanjutannya. “Ini adalah area di mana Indonesia masih tertinggal dari banyak negara lain. Kita perlu  mengejar ketertinggalan dengan cepat,” kata Almo. Menurut dia, Indonesia perlu lebih menggali pendekatan holistik dalam mengelola sektor energi. “Tidak hanya menjalankan peran sebagai produsen minyak dan gas saja,” lanjutnya.

Antara London dan Paris

Sebagai bagian dari proses kuliah master, Almo mendapatkan kesempatan magang di International Energy Agency (IEA) di Perancis. IEA adalah institusi super bergengsi, khususnya bagi mahasiswa jurusan Energi. Di antara temanteman sekelasnya, hanya Almo yang lolos seleksi magang ke sana. Yang lebih mengagumkan, dia menjadi mahasiswa Indonesia pertama yang mempunyai pengalaman berkantor di markas energy dunia itu. Di Paris, Almo berkesempatan belajar membuat alternatif kebijakan energi dan mempresentasikannya langsung di hadapan para pejabat dari berbagai negara. “Saya jadi tahu bagaimana para pembuat kebijakan sangat ingin mendengarkan alternatif solusi dalam pengelolaan energi yang tepat dari credible sources,” ujar Almo. Salah satu pengalaman paling berkesan adalah ketika dia terlibat dalam workshop IEA yang mengundang hampir seluruh menteri energi dari negara-negara di Afrika. Menjalani kuliah sekaligus magang di dua negara berbeda selama hampir satu tahun membuat Almo nyaris tak punya waktu luang. Dalam satu bulan, dua minggu digunakannya untuk berkuliah dan dua minggu yang lain untuk bekerja. Beristirahat di akhir pekan bahkan menjadi kemewahan tersendiri. Sebagai contoh, jika pada minggu pertama di bulan November Almo harus berada di Paris, maka pada hari Sabtu atau Minggu di akhir Oktober, dia mesti menempuh perjalanan dari London ke Paris dengan menggunakan bis umum. “Berangkatnya tengah malam dan sampai di Paris pagi sekali. Kalau saya berangkat minggu malam dari London, setibanya di Paris pada Senin pagi harus langsung ke kantor,” ujar Almo. Sementara jika ada waktu berakhir pekan di Paris, Almo memanfaatkannya untuk bertemu dengan dosen dan teman-teman. “Jadi saya banyak menghabiskan waktu untuk belajar bersama mereka, belajar sendiri di perpustakaan, dan sisanya mengerjakan tugas,” kata Almo. Yang menyenangkan, para pengajar di kampus sangat mendukung aktivitas Almo. Terkadang, mereka bahkan memberikannya opsi untuk dapat mengerjakan tugas melalui fasilitas conference jika sedang berada di Paris.

Gara-gara mati lampu

Almo mengaku telah menemukan passion hidupnya di bidang energi. Dengan pengalaman bekerja dan latar belakang pendidikan yang memadai, Almo bisa menjadi ahli energy andalan di masa depan. Namun, sebelum mantap dengan pilihannya, ternyata Almo sempat bimbang. “Sebelum akhirnya mengambil jurusan Teknik Perminyakan, saya sempat tidak tahu mau belajar apa,” katanya. Saat melihat karier beberapa om dan tantenya di industri migas, Almo jadi tertarik. “Terlihat keren dan banyak traveling,” ujar Almo lagi. Alasan kedua adalah pengalamannya sebagai warga Surabaya yang sering mengalami mati lampu. Sebelum kuliah di Jakarta, dia memang tumbuh besar di sana. “Sampai saat itu saya ingat pernah mengatakan,’Boleh tidak saya dibelikan ensiklopedia?’ kepada ibu,” ujar Almo seraya tergelak. Dari ensiklopedia itu, dia berharap mendapatkan jawaban mengapa listrik di Kota Pahlawan sering padam.

Rencana karier

Saat ini Almo mengaku sedang sangat menikmati pekerjaannya. Sebagai konsultan, dia banyak membantu klien dalam memecahkan tantangan bisnis yang kompleks di sector energi. Ini menjadi kesempatan sempurna bagi Almo untuk menerapkan apa yang telah dipelajari selama menempuh studi di luar negeri. “Saya menjadi semakin percaya bahwa kemitraan swasta-publik adalah kunci dalam mengambil kesempatan pembangunan Indonesia ke tingkat berikutnya, terutama di sektor energi,” kata Almo.  Klien yang bekerja sama dengan Almo bukan hanya di dalam negeri, melainkan juga di kawasan Asia Tenggara. Dia banyak memberikan alternatif kebijakan pengelolaan energi yang sesuai untuk para pengambil keputusan di negara negara tetangga. Meskipun kaya pengalaman melanglang buana ke berbagai negara, untuk saat ini Almo senang menjalani pekerjaannya di tanah air. Mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Indonesia mendorong tekadnya untuk memberikan kontribusi balik. Di masa depan, Almo memiliki keinginan untuk bisa menjadi bagian dalam pembuat kebijakan pengelolaan energi di negeri ini.

Sumber: Media Keuangan