Material, Laboratorium, Kolaborasi Penghasil Solusi

Jalur sutra, banyak orang yang mengatakan seperti itu pada jenjang pendidikan yang ditempuh oleh Adi Surya Pradipta atau biasa dipanggil Adi. Jalur itu bermula sejak diterimanya ia di salah satu sekolah terbaik di Bandung, yaitu SMAN 3 Bandung. Bermodal sekolah terbaik dan tentunya dengan skema pendidikan yang terbaik juga, akhirnya ia berhasil menembus persaingan untuk dapat bersekolah di Institut Teknologi Bandung dan memilih jurusan Teknik Material.

Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana di ITB pada tahun 2014, umumnya alumni dari kampus ini melanjutkan pendidikannya ke kampus-kampus ternama di luar negeri atau bekerja pada perusahaan bergengsi. Namun, langkah yang diambil Adi berbeda dengan kebanyakan orang pada umumnya. Ia memilih untuk melanjutkan pendidikan pascasarjananya di Ilmu dan Teknik Material, ITB dengan beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang diperolehnya pada tahun 2015.

Saat ditanya terkait pilihannya tersebut, Adi mengatakan, “Akan lebih membanggakan dan bermanfaat juga kalau penelitian yang kita lakukan itu berbasis pada kearifan lokal Indonesia. Memang, kalau masalah fasilitas, kompetisinya di luar negeri pasti lebih tinggi. Tapi, kalau kita bisa memaksimalkan apa yang ada di dalam negeri untuk kita proses, modifikasi, dan rekayasa supaya bisa bernilai kelas dunia, itu akan menjadi nilai tambahnya.”

Aktivitas Organisasi

Setelah resmi mendapatkan beasiswa LPDP dan dinyatakan sebagai mahasiswa pascasarjana Teknik Material ITB, Adi pun memulai kiprahnya. Tidak hanya baik secara akademik, Adi pun dikenal sebagai seseorang yang aktif di dunia keorganisasian. Hal tersebut dibuktikan dengan terpilihnya ia secara musyawarah sebagai Koordinator Komunitas Awardee LPDP Bandung Raya atau biasa disebut Camat LPDP Baraya. Adi terpilih saat masa studinya baru saja menempuh waktu 1 bulan, tepatnya pada bulan September 2015.

Nilai yang dibawa di masa kepemimpinannya adalah baraya yang sabilulungan. Sabilulungan berarti saling tolong menolong dalam jalan kebaikan. Pada masa kepemimpinannya terdapat beberapa program yang nyata dirasakan oleh mahasiswa di beberapa kampus dan warga di kawasan Situ Bagendit, Garut dan Pangalengan. Kegiatan yang menyasar mahasiswa tersebut adalah Roadshow LPDP Baraya, yang berisi sosialisasi LPDP dan berbagi pengalaman oleh para awardee baik yang berkuliah di dalam maupun luar negeri. Kegiatan yang berisikan pengabdian masyarakat terangkum pada kegiatan Baraya Bahagia. Pada momen tersebut, awardee tidak hanya merasakan kebahagiaan dengan sesama awardee, tetapi juga berbagi kebahagiaan melalui kelas inspirasi di sekolah yang ditentukan, pasar murah untuk masyarakat, dan konsultasi kesehatan.

Walaupun aktivitas ini dilaksanakan saat masa studi pascasarjananya, Adi dapat membuktikan bahwa amanah tersebut dapat berjalan dengan sinkron. Hal ini dibuktikan dengan predikat kelulusan Cumlaude yang diperoleh saat ia berhasil menyelesaikan program magister Ilmu dan Teknik Material ITB.

Kolaborasi Penelitian

Program studi yang ia pilih, Teknik Material, terbilang masih sangat langka di kalangan masyarakat akan tetapi peran keilmuan ini ada diberbagai lini. Keberadaannya di Laboratorium Pemrosesan Material Maju ITB, membuat ia bertemu dengan peneliti-peneliti dari disiplin ilmu yang berbeda, seperti teknik fisika, kimia, biologi, teknik manufaktur, kedokteran gigi, hingga seni rupa dan desain. Hal inilah yang menuntut dia untuk berkolaborasi mengerjakan penelitian yang multi disiplin.

Adi menjelaskan awal ia berkolaborasi dengan keilmuan lain, “Sejak S1, penelitian saya sudah memiliki warna kolaborasi. Topik penelitiannya tentang tekstil hidropobik, bahan tekstil yang anti air. Saat itu saya coba meneliti dengan rekan dari jurusan tekstil, STT Tekstil Bandung.” Setelah menyelesaikan studi S1, ia tidak berhenti untuk melakukan penelitian. Penelitian dengan topik tekstil tersebut dilanjutkan kembali dengan rekannya yang berasal dari jurusan Kriya, FSRD ITB.

Selain itu ada beberapa penelitian yang dikerjakan secara tim, salah satunya adalah penelitian di bidang teknik filtrasi air laut (desalinasi). Penelitian tersebut merupakan penelitian lanjutan yang bertujuan untuk memproses air laut menjadi air baku. Penelitian ini menjadi penting, mengingat Indonesia merupakan negara yang hampir 2/3 wilayahnya merupakan lautan dan salah satu negara yang memiliki garis pantai terpanjang di dunia.

Saat kebanyakan penelitian hanya berhenti di laboratorium, penelitian terkait limbah batubara, dimana Adi menjadi salah satu penelitinya terus berlanjut hingga ke tahap pengaplikasian. Limbah batubara ini dimanfaatkan menjadi material infrastuktur jalan, seperti untuk jalur pedestrian dan bahu jalan. Penelitian ini sudah cukup viral dikalangan masyarakat karena sudah diangkat oleh media-media lokal. Dikenal dengan nama GeoPori, penelitian ini sudah di uji coba di salah satu bahu jalan dan lapang parkir yang ada di ITB.

“Material berpori ini sudah sama kuatnya dengan material infrastruktur pada umumnya, khususnya untuk yang pedestrian dan bahu jalan, tetapi bisa sangat cepat menyerap air. Jika di Bandung kita mengenal banjir cileuncang karena limpasan air yang tidak dapat diserap oleh infrastruktur yang sudah ada, maka dengan GeoPori ini kita dapat mengembalikan fungsi lahan sebagai daerah resapan.  Alhamdulillah, (penelitian) sangat menarik, antusiasme masyarakat juga sangat tinggi, karena ini masalah kita bersama,” jelas Adi terkait penelitian GeoPori.

Penelitian material berpori ini berhasil mendapatkan penghargaan dalam kategori Program Kerjasama Riset Kebutuhan Produk Iptek untuk Pembangunan Jawa Barat pada akhir tahun 2017 dari Gubernur Provinsi Jawa Barat. Penghargaan ini diberikan dalam rangka Kolokium Hasil-hasil Penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (BP2D) Provinsi Jawa Barat.

Rencana Masa Depan

Kontribusi Adi di bidang material tidak berhenti saat studinya berakhir. Sampai saat ini ia masih melanjutkan penelitian-penelitiannya di Laboratorium Pemrosesan Material Maju ITB. Agar penelitian tersebut dapat diaplikasikan ke masyarakat umum, ia bersama kedua rekannya, Anisa dan Rizqi, membuat sebuah perusahaan pemula dengan nama Tech Prom Lab dengan basis teknologi pemrosesan material.

“Jika dalam Bahasa Inggris kita sebut Take From Lab, mengambil sesuatu dari lab. Apa sih yang diambil? Ya, solusinya. Supaya bisa solutif untuk menyelesaikan permasalahan kita bersama yang ada di masyarakat ini,” ujar Adi saat ditanya arti dari nama perusahaannya tersebut.

Tech Prom Lab diharapkan dapat menjadi jembatan antara laboratorium dan masyarakat untuk merasakan manfaat penelitian-penelitian yang ada di lingkungan akademik. Masih dengan semangat kolaborasi, Adi bersama dengan Tech Prom Lab sangat membuka kesempatan untuk para awardee maupun alumni LPDP untuk berkolaborasi dengan visi besar yaitu menyelesaikan masalah lingkungan.

Saat ditanya lima kata yang berkaitan dengan kontributif, Adi menjawab, “kolaborasi, multi disiplin, solutif, kerjasama, dan inovatif.” Semoga dengan nilai-nilai tersebut dan hadirnya Tech Prom Lab dapat membawa kontribusi positif dan dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

Penulis: A. Jessy Kartini, awardee LPDP PK-33 angkatan 2015 di program studi Teknik Geodesi dan Geomatika, Institut Teknologi Bandung.



Leave a Reply