Digitalisasi Tenun Nusantara

Dari pinggiran Danau Toba Sumatera Utara, sekelompok peneliti yang terdiri dari informatikawan, programmer, desainer, pengembang bisnis, dan pengembang komunitas berkonsentrasi membuat fitur terbaik dalam aplikasi seluler untuk menciptakan desain-desain modern untuk kain tenun Indonesia. Setelah berkutat turun langsung mengumpulkan data dari beberapa pusat tenun nusantara sebagai database untuk memperkuat sistem kecerdasan buatan yang digunakan dalam aplikasi ini, giliran para pengembang aplikasi mengolah data untuk menciptakan aplikasi yang elegan dan mudah digunakan oleh masyarakat. Di waktu yang sama, desainer, pengembang bisnis, dan pengembang komunitas berkonsentrasi membuat strategi terbaik untuk penerapan aplikasi teknologi ini kepada para penenun tradisional yang 90% adalah perempuan dan berpendidikan rendah serta berada pada tingkat ekonomi bawah. Di saat ini, para pendiri dan pencipta aplikasi ini sepakat menamai aplikasi ini dengan nama DiTenun, yang berasal dari frasa Digital Tenun.

Proyek penelitian yang diawali dengan niat tulus memperkuat industri kecil skala rumahan yang berhubungan dengan budaya melalui penerapan teknologi ini telah berlangsung selama dua tahun. Digawangi oleh Dr. Arlinta Barus sebagai ketua periset, yang menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan di Institut Teknologi Del ini, memiliki keinginan kuat untuk menciptakan inovasi yang bermanfaat langsung bagi masyarakat sekitar kampus IT Del. Tim Periset bersinergi dengan Piksel Indonesia sebagai pencipta Batik Fractal yang dipimpin oleh Nancy Margried, M.Sc. Keduanya lantas memutuskan untuk menciptakan aplikasi teknologi seluler untuk kain tenun nusantara. Sebagai proyek percontohan, aplikasi seluler ini akan diterapkan untuk memperkuat kemampuan penenun Ulos di empat kabupaten sekitar IT Del; yaitu Toba Samosir, Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara, dan Samosir.

Sesuai dengan tuntutan komersialisasi yang diterapkan oleh LPDP, Piksel Indonesia sebagai mitra menciptakan strategi komersialisasi untuk aplikasi seluler ini yang diperuntukkan bagi penenun. Dengan mengedepankan visi sosial, komersialisasi aplikasi ini berada pada ranah social entrepreneurship, di mana keuntungan finansial bukan menjadi satu-satunya indikator keberhasilan yang ingin dicapai, namun misi sosial dalam memberdayakan perajin menjadi pertimbangan utama dalam pemasaran. Sesuai dengan kemajuan ilmu manajemen, pendekatan Lean Start-up dalam membuat produk dan menciptakan organisasi usaha digunakan secara mendalam oleh pengembang bisnis dan pengembang aplikasi. Pendekatan bottom-up dalam menciptakan fitur aplikasi merupakan strategi yang digunakan yang mana semua fitur teknologi diciptakan sesuai dengan kebutuhan dan sesuai dengan kemampuan calon pengguna. Hal ini dilakukan untuk memastikan teknologi yang diciptakan benar-benar tepat sasaran dan memecahkan masalah yang dihadapi oleh para penenun. Selama dua tahun pengerjaan aplikasi DiTenun, telah dilakukan beberapa kali percobaan penggunaan dan pelatihan dengan para penenun ulos untuk menciptakan purwarupa aplikasi yang memenuhi prinsip MVP (Minimum Viable Product). Hingga akhirnya di akhir tahun 2018 diadakan peluncuran awal (soft launching) Aplikasi Seluler DiTenun versi 1.0 di kampus Institut Teknologi Del yang dihadiri oleh ketua Yayasan Del Bapak Ir. Patuan Simatupang MCRP, Bapak Rektor IT Del Prof. Togar Simatupang PhD, kelompok tim peneliti dan mitra bersama dengan 15 penenun yang berasal dari 2 kabupaten. Peluncuran awal ini ditandai dengan peluncuran aplikasi selular dan aplikasi situs web dalam www.ditenun.com untuk memfasilitasi para pengguna yang ingin mencoba fitur-fitur ringan aplikasi DiTenun. Saat ini Ditenun App telah mengakhiri tahun kedua proses penelitian dan penciptaan purwarupa aplikasi yang siap digunakan oleh penenun. Sebanyak lebih dari 20.000 penenun di seluruh Indonesia memiliki tantangan yang mirip dalam menciptakan dan melanjutkan profesi mereka sebagai penenun. Tenun sebagai kain asli Indonesia memiliki fungsi utama adati yang terbatas penggunaannya dan memiliki makna sakral dalam tiap motifnya. Namun tenun juga memiliki fungsi sandang sehari-hari yang seharusnya dapat mengikuti kemajuan zaman dan trend desain agar pemakaian dan pemasarannya tetap berkelanjutan. Pada titik inilah DiTenun App menjawab tantangan dan memecahkan masalah penenun. Melalui penggunaan aplikasi seluler ini, para penenun dengan mudah dapat menciptakan desain-desain baru di luar motif adat yang sakral. Motif-motif baru ini pun terinspirasi dari motif asli asal daerah tenun tersebut, sehingga ciri khasnya tetap terjaga namun memiliki sentuhan modern yang disukai pemakai fesyen modern. Melanjutkan kesuksesan pembinaan perajin tenun Ulos di empat kabupaten di provinsi Sumatera Utara, Tim DiTenun tengah memantapkan strategi penguatan kerajinan tenun lainnya yang berasal dari propinsi Jawa Timur, Propinsi Nusa Tenggara Timur dan Propinsi Nusa Tenggara Barat yang akan dilaksanakan di tahun ketiga penelitian RISPRO LPDP.

 

Penulis: Nancy Margried, M.Sc. dari Piksel Indonesia

Artikel ini telah dimuat dalam majalah Risprologi Edisi 6

 

RISET INOVATIF PRODUKTIF LPDP

Nama periset: Dr. Arlinta Christy Barus, ST, M.InfoTech

Mitra periset: Piksel Indonesia

Judul Riset: PIRANTI CERDAS PENGHASIL MOTIF TENUN NUSANTARA

Asal Instansi: Institut Teknologi DEL

https://www.ditenun.com/

 

Pendaftaran Riset Inovatif Produktif LPDP masih dibuka hingga 10 April 2019, informasi lebih lanjut https://www.lpdp.kemenkeu.go.id/dana-riset/riset-inovatif-produktif/



Leave a Reply