Pencapaian Istimewa Sang Doktor Muda

Shofarul Wustoni adalah salah satu penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang bertabur prestasi. Dengan beasiswa LPDP, anak muda kelahiran Bangkalan, Jawa Timur, 26 September 1989 itu berhasil menamatkan pendidikan doktor di Waseda University, Tokyo pada 2016. Yang lebih istimewa, program pendidikan S1 dan S2 Toni— sapaan akrab Shofarul Wustoni—juga diselesaikan dengan beasiswa. Toni percaya ada banyak nilai dan pengalaman yang bisa dipelajari dalam proses interaksi di negara orang. Oleh karena itu, dia memutuskan pergi ke Jepang untuk melanjutkan studi. Bidang ilmu nanoteknologi yang ditekuni Toni memang berkembang pesat di sana. Kelengkapan fasilitas riset dan teknologi juga sangat mendukung. “Di samping itu, ada nilai-nilai positif dari penduduk Jepang yang bisa diadaptasi selama hidup di sana,” kata dia kepada Media Keuangan. Meskipun sang ayah sudah menjadi pensiunan PNS sejak Toni duduk di bangku SMA, dia tak menyerah dalam menggapai pendidikan. Program S1 di Institut Teknologi Bandung dirampungkannya dengan beasiswa unggulan Dikti, sedangkan gelar master diraih Toni di Waseda University dengan pembiayaan penuh dari pemerintah Jepang melalui Beasiswa Monbukagakusho.

Nanoteknologi dan Biosensor.

Sejak menyelesaikan program master pada 2013, Toni semakin tertarik menekuni ilmu nanoscience and nanoengineering. “Bidang ini merupakan kombinasi beberapa disiplin ilmu, seperti material sains, kimia, fisika, dan biologi,” kata dia. Penelitian S3-nya yang terakhir terkait pengembangan biosensor divais berbasis transistor. Penelitian itu mengambil fokus pada modifikasi dan transformasi transistor divais yang sudah dikembangkan sebelumnya di laboratorium. Hasil modifikasinya berbentuk biosensor yang bisa mendeteksi beberapa target biomolekul seperti protein terkait penyakit prion dan protein yang menjadi biomarker untuk penyakit kanker. Mimpi terbesar Toni lewat studi yang dilakukannya dan rencana riset jangka panjangnya adalah berkontribusi menciptakan teknologi atau divais yang sederhana, murah, dan aplikatif untuk mendeteksi dan mendiagnosis penyakit. “Harapannya divais ini bisa disebarluaskan di seluruh pelosok nusantara, khususnya daerah-daerah yang masih minim fasilitas kesehatan dan sulit menjangkau perkotaan,” kata Toni.

 Tantangan.

Adaptasi lingkungan dan budaya riset menjadi salah satu tantangan awal yang dihadapi Toni saat memulai studi di Negeri Sakura. Tantangan itu tak sulit ditangani karena keramahan penduduk dan keteraturan hidup di sana. “Dalam kehidupan sehari-hari, sistem yang jelas, tertata, dan praktis merupakan ciri khas dan hal paling berkesan selama di Jepang,” kata Toni. Komunitas pelajar Indonesia di Jepang yang penuh kebersamaan dan saling membantu juga membuat tantangan Bahasa Jepang dan budaya bisa diatasi. Dari segi pembelajaran di dalam kelas, Toni menilai kualitas mahasiswa Indonesia tidak jauh berbeda dengan mahasiswa negara lain. Bahkan, bisa lebih unggul dalam aspek tertentu. “Saya mengenal mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Jepang dengan banyak prestasi dibandingkan pelajar dari negara lain,” kata Toni. Ia berharap ke depan bisa menjadi bagian dari generasi Indonesia yang ikut berkolaborasi mensinergikan seluruh potensi pemuda menjadi sebuah resultan energi dengan karya positif.

Aktivitas Lain

Di samping menjalani perkuliahan, selama tinggal di Jepang Toni juga senang terlibat dalam organisasi dan kepanitian. Toni merupakan aktivis Persatuan Pelajar Indonesia (PPI). Dia sempat menjadi Ketua PPI Jepang daerah Kanto (Tokyo dan sekitarnya) pada 2013-2014.  Bukan hanya itu, Toni juga menjadi pengurus organisasi profesi dan keilmuan di Jepang (ISTECS), serta berpartisipasi aktif dalam beberapa kepanitiaan Keluarga Masyarakat Muslim Indonesia (KMII) Jepang. “Saya juga ikut pada beberapa kegiatan untuk berbagi pengalaman studi di luar atau diskusi keilmuan via online,” ujarnya.

Meskipun sibuk dengan kuliah dan organisasi, Toni tetap berhasil meraih banyak prestasi. Selama belajar di Jepang, Toni sempat mempresentasikan belasan karya ilmiah di sana maupun negaranegara lain seperti Indonesia, Australia, Amerika Serikat, dan Swiss. Sejumlah prestasi juga diterimanya, antara lain penghargaan Mizuno Award for Doctoral Thesis 2016 dari Waseda University, Student Travel Grant from Sensor Division of the Electrochemical Society (ECS) untuk presentasi di konferensi tahunan ECS 2015, Travel Grant from Marubun Research Foundation pada 2015, Mizuno Fellowship 2014 and Research Grant for Young Doctoral Student 2013 dari Global Center of Excellence dari Waseda University.

Sumbangsih

Toni memiliki segudang rencana untuk berkontribusi terhadap negeri. Dia ingin bergerak dan beraktivitas di bidang pendidikan, riset pengetahuan dan teknologi, hingga pengembangan bidang socialtechnopreneurship. Melalui bidang pendidikan, Toni ingin berbagi dan berusaha mendorong lebih banyak generasi muda kurang mampu atau berasal dari daerah daerah nonperkotaan agar bisa merasakan pendidikan lanjutan. Toni bercerita bahwa dia termasuk salah satu anak desa yang mendapatkan informasi dan memperoleh beasiswa Dikti lewat jalur Olimpiade Sains Nasional tingkat SMA ke ITB. Sejak saat itu, dia mulai menemukan banyak peluang. “Meskipun saat ini perkembangan teknologi informasi maju pesat, namun persebaran informasi belum benar-benar merata ke seluruh daerah” ujar Toni. Aktivitas lain yang sedang direncanakan adalah mencari kegiatan yang bisa mempertemukan anak-anak muda daerah berpotensi dengan peluang-peluang beasiswa dan pendanaan, sehingga mereka bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. “Saya mengalami sendiri bagaimana kawan-kawan karib di SD atau SMP yang belum bisa merasakan atau harus terputus jenjang pendidikannya karena masalah ekonomi, sedangkan mereka memiliki potensi akademik yang begitu besar.” Untuk turut berkontribusi pada bidang riset iptek dan social technopreneurship, Toni mulai mempelajari, membentuk tim, dan membuat rencana spesifik ide-ide berbasis iptek yang bisa aplikatif di Indonesia. Utamanya pada komoditas berbasis sumber daya alam yang ada seperti peningkatan kualitas garam, pengolahan limbah proses sampingan dari tambang batu kapur, limbah batu bata, limbah karet dan tebu, dan sejenisnya dengan pendekatan kimia maupun material sains. “Saya ingin riset yang dijalani bisa berujung pada prototype atau produk yang bisa bermanfaat langsung, termasuk membuka lapangan pekerjaan baru,” ujar Toni.

Harapan

Usai menyelesaikan penelitian S3 pada usia 26, Toni berharap dapat merasakan suasana belajar sebagai peneliti postdoc di beberapa institusi di negara berbeda dalam beberapa tahun ke depan, sampai dia berusia 30 tahun. “Motivasi dan harapan dari periode postdoc yang dijalani ini untuk mendapatkan networking yang lebih luas di beberapa negara, merasakan dan mempelajari kultur riset dan cara berpikir ilmiah yang berbeda, serta pengalaman hidup baru selain di Jepang,” kata Toni. Menurut Toni, modal networking dengan berbagai kolega postdoc dari berbagai negara dan kesempatan belajar riset ke profesor berbeda akan sangat bermanfaat untuk rencana profesi dan kontribusinya ke depan. Selama periode studi S3 dan postdoc, Toni berharap dapat tuntas dengan dirinya sendiri. “Dengan demikian, saat pulang nanti semoga bisa sadar diri dan tidak mengeluh, serta memiliki fokus bergerak dengan kondisi apapun dalam berkontribusi untuk tanah air” ujar dia.

Sumber: Media Keuangan Kemenkeu



Leave a Reply