Pendidik Berprestasi, Kaya Kontribusi

Di tengah kualitas pendidikan Indonesia yang belum menggembirakan, sosok pengajar visioner menjadi kemewahan yang begitu berharga. Berbincang dengan sosok Agus Muhtar, menumbuhkan optimisme bahwa di masa depan, pendidikan Indonesia bisa lebih baik lagi. Agus—demikian dia dipanggil— merupakan sosok pengajar berprestasi yang kaya kontribusi. Lewat beasiswa dari Lembaga Pengelolan Dana Pendidikan (LPDP), Agus memilih bidang ilmu fisika guna melanjutkan jenjang pendidikan pascasarjana di Universitas Gajah Mada. Tidak main-main, kesungguhan Agus dalam menjalani pendidikan tampak dari pencapaian Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang nyaris sempurna. Bahkan, tesis yang disusunnya dinilai bermanfaat bagi negara, sehingga dianugerahi Tangguh Award dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada 2016 lalu.

Terlanjur jatuh hati

Terdapat alasan kuat dibalik pilihan Agus mengambil jurusan fisika. Selain linier dengan bidang yang sebelumnya diambil pada masa sarjana, kecintaan pemuda berusia 35 tahun ini pada ilmu sains tidak perlu diragukan. Sejak bangku sekolah dasar, Agus cilik begitu berminat pada sains dan ilmu pengetahuan. Lewat buku-buku di perpustakaan, Agus banyak menghabiskan waktu melahap habis buku yang tersedia. Datangnya koleksi buku baru, menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu. Tidak heran, semasa Sekolah Menengah Pertama (SMP),

Agus telah menciptakan permainan aplikatif yang didasarkan pada ilmu fisika sederhana. “Misalnya roket korek api dan prinsip aerodinamis dari anak panah,” kisah pria kelahiran Purworejo ini. Agus menyadari, fisika menjadi bidang imu yang kurang diminati. Hal ini cukup beralasan, sebab menurutnya, Fisika yang diajarkan di sekolah hanya sebatas akumulasi pengetahuan teori dan perhitungan matematis. “Penguasaan terhadap konsep, internalisasi nilai dan sikap, serta pembentukan karakter sains siswa (melalui bidang ini), jarang diajarkan,” jelas Agus. Itu sebabnya, lanjut Agus, para siswa tidak terbiasa berpikir kritis dan inovatif. Padahal, menurut Agus, perkembangan dunia sains dan teknologi sudah semakin pesat. Aplikasi fisika sudah jauh berkembang pada teknologi terapan yang bermanfaaat bagi masyarakat dan negara.“Kita butuh lebih banyak generasi muda Indonesia yang peduli akan ilmu pengetahuan dan sains,”ungkapnya.

Berdaya dan berprestasi

Sebelum masa menjalani beasiswa pascasarjana, Agus banyak berkecimpung dalam dunia pendidikan. Mulai dari pengajar, relawan, hingga pembicara pada berbagai konferensi dan seminar nasional maupun internasional. Sejumlah karya ilmiah dalam bidang sains dan pendidikan juga banyak dia lahirkan. Pesatnya perkembangan dunia

sains diyakini Agus membutuhkan inovasi dalam pendidikan. Ikut dalam kompetisi di tingkat nasional, ASEAN, hingga internasional menjadi cara Agus untuk terus termotivasi. Beberapa penghargaan yang berhasil diraih Agus diantaranya International Leaders in Education di Amerika Serikat, Whiteboard Animation Competition Tingkat ASEAN, Penghargaan Tangguh Award tingkat Nasional, serta Inovasi Pendidikan pada Simposisum Guru Tingkat Nasional oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Agus juga aktif dalam berbagai komunitas dan kegiatan sosial masyarakat yang umumnya tidak jauh dari perannya sebagai pendidik, misalnya program desa binaan, yayasan buku, relawan pendidikan, komunitas komputer, dan masih banyak lagi. Melalui kegiatan sosial, Agus belajar sisi lain kehidupan yang dinilai sangat berharga. “Dari situ saya tergerak untuk aktif dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan di manapun saya tinggal,”tekad Agus.

Jatuh bangun

Dalam meraih beasiswa LPDP, Agus menjalani tantangan yang tak mudah. Bidang ilmu komputer adalah pilihan pertama Agus untuk melanjutkan pendidikan guna mendukung perannya sebagai pengajar sekaligus relawan. Namun Tuhan berkehendak lain. Agus mengalami kecelakaan lalu lintas yang berakibat pada pecahnya tempurung lutut sebelah kanan. Akibatnya, Program Martikulasi Pra-S2 Ilmu Komputer sebagai syarat untuk memperoleh Letter of Acceptance (LoA), gagal dia ikuti. Nyaris saja, tenggat satu tahun yang diberikan LPDP dalam memperoleh LoA gagal dia penuhi. Agus pun mengubah strategi dengan mengambil jurusan lain yang linier dengan pendidikan sarjananya, yaitu ilmu fisika. Beruntung, UGM masih membuka pendaftaran mahasiswa baru. “Dalam kondisi sakit, saya dibopong ke lantai 3 untuk mengikuti tes potensi akademik sebagai persyaratan administrasi masuk kuliah,” kenangnya. Bersyukur, tepat satu bulan sebelum masa tenggat yang diberikan LPDP berakhir, LoA dari UGM sudah di tangan. Proses pemulihan fisik yang belum selesai jadi tantangan tersendiri semasa menjalani perkuliahan. Sebab, sejumlah fisio terapi dan operasi harus dia jalani. Belum lagi, konsentrasi pendidikan fisika murni ternyata jauh berbeda dengan ilmu pendidikan fisika yang ditekuninya semasa sarjana. Hal ini berimbas pada capaian nilai sejumlah mata kuliah esensial yang tidak memuaskan. Namun demikian, memasuki semester kedua, Agus bergegas mengejar ketertinggalan. Kondisi fisik yang mulai pulih turut mendukung, sehingga pada semester ketiga, Agus berhasil memperoleh IPK yang nyaris sempurna pada semua mata kuliah. Bahkan, kompetisi dan penghargaan tingkat nasional dan internasional tidak jarang diperoleh Agus selama menjalani masa pendidikan.

Tesis pilihan

Perjuangan Agus membuahkan hasil gemilang. Tesisnya diapresiasi lewat penghargaan dari BNPB melalui Tangguh Award 2016 karena dinilai memberi kontribusi terhadap upaya penyelamatan dan pengurangan dampak bencana alam. Risetnya mengidentifikasi patahan bawah permukaan tanah dan pemetaan daerah rawan bencana gempa bumi berdasarkan data pengukuran mikrotremor. Dari hasil penelitian ini dapat dilakukan sejumlah upaya edukasi dan mitigasi guna mengurangi risiko dan dampak kerusakan akibat bencana gempa. Geofisika menjadi bidang konsentrasi yang ditekuni Agus. “Dengan memanfaatkan prinsip-prinsip Geofisika, kita dapat mengeksplorasi lokasi potensi kekayaan alam untuk kesejahteraan masyarakat. Selain itu, aplikasi Geofisika juga dapat menganalisa gejala bencana alam guna mengurangi dampak dan resiko bencana yang berpotensi merugikan masyarakat,” ungkap lulusan sarjana Universitas Negeri Yogyakarta pada 2005 silam ini.

Terus bergerak

Hingga nanti Agus ingin terus berdaya. Salah satunya menjadi pengajar yang menginspirasi generasi muda untuk mencintai sains. Pada bidang sosial masyarakat, Agus berharap bisa menjadi jembatan munculnya kelompok masyarakat yang berdaya dan mandiri. “Banyak sekali hal-hal positif yang bisa kita lakukan saat masih muda. Dunia akan berubah menjadi tempat yang lebih baik jika yang muda mau bergerak dan berkontribusi,”pesannya. Agus menyadari, batasan pada diri seseorang hanyalah dirinya sendiri. “Tidak ada yang mustahil jika ada kemauan,” kata Agus. Mendedikasikan waktu dan berbagi untuk orang lain, bagi Agus berarti sedang berbuat baik pada diri sendiri. “Sebab berbagi mampu memperkaya dan menggembirakan jiwa,”ujarnya.

Sumber: Media Keuangan



Leave a Reply