Perjuangan dan Doa Orang Tua

Saya berasal dari kelurga dengan kondisi ekonomi yang serba terbatas. Ibu saya berjualan di warung kecil. Barang dagangannya dibeli dari pasar kecil di desa. Ibu mengambil barang pagi hari dan harus dibayar malamnya setelah barang tersebut terjual, walaupun kerap kali dagangan Ibu kadang tidak laku juga. Ibu sering dimarahi saat pemilik barang menagih uang karena tidak bisa membayar lunas. Alasan tepatnya , jika uang hasil berjualan barang diberikan ke penjual, maka saya tidak memiliki uang untuk berangkat sekolah. Sekolah saya terletak di kota, sedangkan saya tinggal di desa yang untuk pergi ke sekolah membutuhkan ongkos tidak sedikit bagi keluarga kami. Terkadang Ibu saya hanya dapat memberi uang yang hanya cukup untuk membiayai ongkos pergi. Saya tetap pergi ke sekolah dan untuk ongkos pulang ke rumah saya fikirkan nanti. Yang penting saya bisa berangkat sekolah. Sampai akhirnya, saya mendapat beasiswa golongan ekonomi lemah. Salah satu kabar bahagia juga saya dapatkan ketika saya dapat mewakili sekolah dalam olimpiade fisika SMA/MA. Dari sana saya dapat melunasi uang masuk sekolah.

Saat Ujian Nasional, saya mendapat nilai 10 di pelajaran matematika. Akan tetapi saya tidak langsung melanjutkan kuliah karena harus bekerja terlebih dahulu untuk mencari biaya. Setahun setelah lulus, akhirnya saya kuliah di jurusan Fisika Universitas Diponegoro. Saat melihat pengumuman SPMB, saya sangat senang karena diterima di UNDIP akan tetapi di saat bersamaan juga sedih karena tidak tahu dari mana mendapat uang masuk kampus. Syukurnya, dari pertimbangan pihak UNDIP, saya diperbolehkan membayar biaya awal kuliah 1 juta dahulu dan sisanya dapat dicicil kemudian. Keluarga saya susah payah untuk mendapatkan pinjaman 1 juta ke orang lain. Saat kuliah, bersyukur saya mendapatkan beasiswa, meski hanya cukup untuk membiayai SPP dan PRKP setiap semester. Saya sering dipanggil pihak rektorat karena belum bisa membayar kekurangan biaya awal masuk kuliah.

Disamping memikirkan materi kuliah yang berat, kepala saya juga dihujami fikiran atas kekurangan biaya awal masuk kuliah. Untuk menutupi uang masuk tersebut dan kebutuhan sehari-hari, saya bekerja keras di sore hari dan bekerja lagi dari jam 10 malam sampai jam 6 pagi. Oleh karena itu, saya sering mengantuk saat kuliah. Walaupun demikian, saya tetap berjuang menuntut ilmu dan meraih cita-cita karena do’a kedua orang tua selalu menyertai langkah saya.

Terkadang saat saya akan berangkat kuliah, Ibu memberi uang seribu rupiah. Saya tahu jumlah itu adalah yang terbaik yang bisa Ibu berikan dengan kondisi ekonomi keluarga. Saya melihatnya sebagai bentuk kasih sayang yang luar biasa kepada anaknya. Meski penuh keterbatasan, saya sama-sekali tidak merasa iri terhadap teman-teman yang mempunyai uang jajan lebih dari orang tuanya. Menurut saya yang paling penting adalah do’a dari kedua Orang tua.

Akhirnya saya berhasil lulus dan diwisudah oleh UNDIP. Saat wisuda, saya merasakan aliran kebahagiaan yang begitu deras ketika melihat kedatangan kedua orang tua. Mata saya berkaca-kaca mengingat wisuda ini adalah hasil jerih payah perjuangan yang sungguh luar biasa dan do’a dari kedua orang tua saya.

Sukses, merupakan pencapaian hasil yang relatif. Kedua Orang tua saya telah berjuang dengan susah payah, dengan berhutang bahkan sampai menanggung malu dimarah-marahi oleh orang lain demi pendidikan saya. Maka sukses menurut saya adalah pencapaian yang dimulai dari membalas jasa orang tua dengan membantu perekonomian mereka. Saya sangat berharap saya dapat membuat orang tua saya makan tanpa perlu berhutang lagi, dapat memperbaiki rumah yang semula pagarnya kayu yang bolong-bolong menjadi tembok sehingga mereka tidak kedinginan dan kebocoran saat hujan. Walaupun saya faham bahwa itu semua tidak dapat membalas jasa mereka. Disamping itu, saya juga ingin membatu siswa-siswi yang mempunyai tekad untuk kuliah namun mempunyai keterbatasan ekonomi seperti saya. Saya bertekad untuk membantu mereka meraih cita cita dan agar mereka daapat ikut memajukan bangsa ini.

Komitmen untuk Sesama

Hampir setiap tahun sejak masih kuliah, saya mengantarkan siswa-siswi dari desa saya atau daerah lain yang ingin kulian dengan kendala biaya. Saya memotivasi mereka agar melanjutkan sekolah sampai bangku kuliah karena di ada banyak beasiswa yang bisa didapat untuk menutupi biaya kuliah. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, saya memberi tahu mereka bahwa mereka bisa mengambil kerja part time. Saya sering mengantarkan siswa-siswi yang terkendala ekonomi tersebut kepada Pembantu Rektor II atau bahkan Rektor UNDIP untuk meminta penundaan pembayara atau untuk dapat mencicil pembayaran.

Saya percaya pendidikan sangat penting untuk bekal mereka di masa mendatang. Siswa-siswi ini mempunyai kesempatan yang sama dengan yang lain untuk mendapatkan pendidikan dan meraih apa yang mereka cita-citakan, namun yang membedakan hanyalah latar belakang perekonomian keluarga. Saya bisa berjuang sampai lulus kuliah dengan keterbatasan ekonomi dan saya berharap mereka juga bisa kuliah dan lulus seperti saya.

Banyak siswa-siswi dari daerah yang ingin sekali melanjutkan pendidikannya ke bangku kuliah, namun kata yang sering saya dengar dari orang tua mereka dan dari mereka sendiri adalah tidak bisa membiayai kuliah. Pemikiran bahwa kuliah itu mahal sudah melekat pada pemikiran masyarakat di daerah-daerah khususnya daerah saya yang mayoritas warganya nelayan yang menggantungkan hidupnya pada laut dengan pendapatan yang tidak menentu. Pemikiran itu wajar melihat pendapatan nelayan rata-rata tidak seberapa dan kadang mereka hutang untuk makan apalagi saat musim hujan mereka berhenti total untuk melaut karena cuaca. Setelah saya bisa kuliah, orang-orang di desa saya sering minta arahan untuk anaknya agar bisa kuliah. Hal itu terjadi hampir setiap tahun. Saya memotivasi orang tua dan anaknya agar tetap mengikuti tes masuk PTN. Saya sangat bersyukur ketika melihat beberapa dari mereka sekarang dapat diterima di PTN dan tersenyum menikmati bangku kuliah dengan beasiswa dan kerja part time.

Pamit kepada Ayah

Saya menempuh pendidikan Pascasarjana di Institut Teknologi Bandung dengan beasiswa LPDP. Kelompok Keahlian yang saya pilih adalah Fisika Material Magetik dan Fotonik. Pendidikan Pascasarjana saya jalani seperti mahasiswa pada umumnya yaitu kuliah, mengerjakan tugas, penelitian dan tesis. Namun saya perlu membiayai pengobatan Ayah saya yang sudah mengalami stroke sebelum saya kuliah S2. Biaya pengobatan Ayah saya cari dengan cara menulis buku Fisika dan Matematika di salah satu penerbit terbesar di Indonesia. Saya harus pintar-pintar membagi waktu antara kuliah dan menulis buku.

Saya sering pulang ke rumah. Suatu hari saat saya menjalani kuliah di semester III, saya pamit berangkat ke Bandung untuk melanjutkan penelitian tesis. Saya mencium Ayah saya yang terbaring sakit di kamar. Sesampainya di Bandung, saya bermimpi ayah meninggal. Begitu leganya hati ini ketika mendapati bahwa itu hanya mimpi. Akan tetapi, setelah beberapa saat saya mendapat telepon dan diminta pulang karena Ayah telah meninggal. Ternyata kecupan saya kepada ayah saat itu merupakan pamitan terakhir saya ke untuknya. Saya begitu sedih karena terus teringat kondisi ketika Ayah terbaring di kamar, beliau selalu bilang bilang ingin melihat saya wisuda di Bandung.

Saya bisa lulus dengan IPK di atas yang disyaratkan LPDP. Saat saya menulis ini, cita-cita saya untuk merenovasi rumah sudah 90% lebih terwujud. Pesan saya untuk Adik-adik pelajar, raihlah cita-cita kalian, jangan takut bermimpi, jangan takut untuk meraih pendidikan tinggi. Tataplah masa depan dan jangan minder pada keterbatasan. Justeru di balik kondisi keterbatasan itulah ada proses kemandirian dan kedewasaan diri dibentuk.

Penulis : Muslihun (Awardee LPDP)