Petani Indonesia Terbang Melesat Bersama Beehive Drones

Pernahkah anda bayangkan berapa lama waktu yang dibutuhkan petani untuk mengontrol seluruh lahan pertaniannya secara seksama? Pernahkah anda bayangkan betapa sedihnya hati petani yang panennya gagal dikarenakan telat mengetahui bahwa tanamannya diserang hama dan penyakit? Beehive Drones melalui proyek Beehive Agriculture berusaha untuk membantu petani dan industri pertanian dalam mengatur lahan pertanian mereka dengan menggunakan pesawat tanpa awak yang bisa diakses dengan menggunakan aplikasi telepon genggam. Pesawat tanpa awak ini mampu untuk melakukan pemindaian kesehatan tanaman, pendeteksian serangan hama, dan juga melakukan tindakan penanggulangan seperti menyebar pupuk dan pestisida. Pesawat tanpa awak ini mampu untuk terbang dan melakukan tugas-tugas tersebut secara mandiri sehingga bisa digunakan oleh seluruh kalangan dengan berbagai latar belakang. Beehive Drones melalui proyek ini bertujuan untuk mengoptimalkan hasil dari lahan pertanian yang ada sehingga bisa meningkatkan pendapatan petani dan juga mengurangi konversi hutan menjadi lahan pertanian dalam rangka memenuhi permintaan pasar.

Ide mengenai Start Up ini muncul sekitar bulan September 2017 ketika Albertus Gian Dessayes Adriano (Gian) berkunjung ke Manchester dan bertemu dengan Ishak Hilton Tnunay (Tnunay). Kedua sahabat ini merupakan penerima beasiswa LPDP angkatan (PK) 48 dan sedang menempuh pendidikan di Inggris. Gian menempuh pendidikan master (MSc) di Advanced Material Science and Engineering di Imperial College London dan Hilton yang tengah menjalani kuliah doktoral (Phd) di bidang Control Systems di University of Manchester. Kedua sahabat ini memikirkan kontribusi apa yang bisa dilakukan saat kembali ke Indonesia sesuai dengan janji mereka pada saat menerima beasiswa dari Kementerian Keuangan tersebut. Karena Gian memiliki janji untuk membuka perusahaan berbasis teknologi di Indonesia dan Hilton berjanji untuk membuka badan riset sistem kontrol di bidang koordinasi pesawat tanpa awak, mereka bersepakat untuk mengembangkan startup yang memanfaatkan pesawat tanpa awak dalam kehidupan sehari- hari dengan mengetahui fakta bahwa pesawat tanpa awak sejauh ini masih cukup jauh dari kehidupan masyarakat awam padahal memiliki potensi besar untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kesepakatan ini terjadi pada tanggal 13 Oktober 2017 di kantor Hilton yang terletak di University of Manchester, Inggris. Kedua sahabat ini menamakan Start Up mereka: Beehive Drones. Nama ini didasarkan pada teknologi Swarm Drones yang mereka usung dimana teknologi ini membuat pesawat-pesawat tanpa awak mampu untuk beroperasi secara mandiri, berkomunikasi satu dengan yang lain, dan menyelesaikan tugas yang diberikan secara bersamaan. Gian dan Hilton kemudian bersepakat bahwa sasaran pasar (target market) yang pertama adalah pengembangan pesawat tanpa awak untuk pertanian, dengan pertimbangan sektor agrikultur merupakan sektor vital di Indonesia yang hingga saat ini sedikit banyak masih menggunakan teknologi tradisional.

Guna mengumpulkan uang dan menguji ide pengembangan pesawat tanpa awak di bidang agrikultur ini, Hilton dan Gian mengikuti beberapa lomba. Lomba pertama yang mereka ikuti adalah Venture Out 2018 yang merupakan lomba untuk mahasiswa University of Manchester. Pada lomba ini Muhammad Randi Ritvaldi dan Anindita Pradana Suteja bergabung untuk memperkuat tim Beehive Drones. Muhammad Randi Ritvaldi adalah mahasiswa master di bidang Communication Engineering dan Anindita Pradana Suteja adalah mahasiswi International Business. Keduanya menempuh pendidikan di University of Manchester. Formasi tim Beehive Drones kemudian dilengkapi oleh kehadiran Richard Aritonang yang merupakan ahli di bidang pengembangan perangkat lunak (Software Developer).

Beehive Drones mengikuti berbagai kompetisi di Inggris, Indonesia, Korea, dan Jerman. Pada tanggal 15 Maret 2018, Beehive Drones berhasil menjadi Imagine Cup 2018 national champion untuk Indonesia yang kemudian akan berlaga di tingkat Asia Pasifik dan sukses untuk mewakili Asia Pasifik melaju ke World Finals di Seattle, Amerika Serikat yang akan diselenggarakan pada akhir Juli 2018.

Beehive Drones adalah sebuah proyek startup yang menginisiasi penerapan konsep Drone-of-Things, yaitu penggunaan teknologi swarm pesawat tanpa awak yang berbasis Internet-of-Things. Dengan menggunakan teknologi ini, sejumlah pesawat tanpa awak dapat dikirimkan seketika ke suatu wilayah untuk mengerjakan tugas bersama-sama berdasarkan permintaan pengguna.

Beehive Drones memproduksi sistem pesawat tanpa awak untuk berbagai keperluan seperti pertanian, inspeksi, pengamanan, dan SAR. Untuk pengembangan sistem pertanian, Beehive Drones mengusung nama proyek Beehive Agriculture yang menggarisbawahi keprhatinan akan konversi hutan menjadi lahan pertanian yang telah menjadi masalah global di sebagian besar negara, khususnya di Asia Tenggara. Fenomena ini disebabkan oleh peningkatan permintaan bahan pangan, rendahnya pendapatan, pengelolaan lahan yang buruk, dan teknologi pertanian yang mulai usang. Konversi ekosistem hutan menjadi lahan pertanian memiliki dampak buruk bagi lingkungan dan kehidupan manusia karena memperburuk situasi akibat pemanasan global dan menurunkan keragaman hayati. Keadaan ini akan terus berlanjut jika tidak ada metode yang sesuai untuk melakukan pengelolaan lahan dengan baik dan merevolusi cara bertani yang selanjutkan akan berimplikasi pada peningkatan produksi pertanian tanpa melakukan konversi hutan.

Penerapan teknologi Drone-of-Things ini memerlukan tiga komponen yang saling terhubung: stasiun pesawat tanpa awak, pesawat tanpa awak dan user interface (website dan mobile application). Sistem Beehive Agriculture dirancang untuk memudahkan petani meminta layanan pesawat tanpa awak dari stasiun terdekat untuk mengerjakan tugas secara otomatis. Tugas-tugas yang dapat diselesaikan menggunakan pesawat tanpa awak ini meliputi pemetaan udara, pemantauan berkala, penyebaran pupuk dan pestisida dan penyiraman air. Pemantauan berkala ini memudahkan petani untuk melihat pertumbuhan tanamannya secara berkala. Berdasarkan data yang diperoleh saat melakukan pemantauan, sistem ini selanjutnya memberikan saran dan rekomendasi kepada petani terkait tahapan yang selanjutnya harus dilakukan: melakukan penyiraman, penambahan pestisida atau penambahan pupuk. Selain itu, pemetaan dari udara juga dirancang untuk memudahkan petugas pemerintah untuk melakukan perencanaan tata letak wilayah pertanian dengan lebih berhati-hati.

Gian dan Hilton berharap perusahaan startup yang mereka bangun mampu memberikan kontribusi berarti bagi rakyat Indonesia. Mereka sadar bahwa uang yang mereka gunakan berasal dari rakyat Indonesia dan mereka berusaha untuk membayar kembali kebaikan rakyat Indonesia dengan membangun perusahaan berbasis teknologi dan kemudian pusat penelitian sistem pesawat tanpa awak sehingga meningkatkan kesejahteraan hidup di Indonesia dan daya saing Indonesia di mata dunia.

Tentang Beehive Drones

Waktu Pendirian: Oktober 2017

Anggota:

Albertus Gian Dessayes Adriano- Awardee PK-48 (CEO)

Ishak Hilton Pujantoro Tnunay- Awardee PK-48 (CTO)

Anindita Pradana Suteja (CFO)

Muhammad Randi Ritvaldi (COO)

Richard Aritonan (CIO)

List of Awards:

Venture Out 2017 1 st Winner, Research Category: Manchester, United Kingdom

Accelerate Me 2017 Finalist Bootcamp: Manchester, United Kingdom

Global Social Venture 2018 Finalist: Seoul, Republic of Korea (ongoing)

Imagine Cup 2018, National Champion: Republic of Indonesia (ongoing, go for Asia Pacific Final)

Tautan Media:

https://www.merdeka.com/teknologi/ini-dia-pemenang-imagine-cup-2018-indonesia.html

https://koran.tempo.co/konten/2018/03/22/428879/Drone-untuk-Petani

https://gizmologi.id/teknologi/beehive-drones-imagine-cup-2018/

 

Penulis: Albertus Gian Dessayes Adriano (Awardee LPDP Program Magister di Imperial College London)