Riset Kolaborasi Internasional LPDP Masuk Daftar Newton Prize 2019

Indonesia dan dunia menghadapi tantangan besar, baik di bidang kesehatan, ketahanan pangan dan krisis iklim. Kolaborasi riset dan inovasi penting untuk menjawab tantangan ini. Melalui Newton Fund, pemerintah Inggris diwakili Department of Business, Energy and Industrial Strategy bersama dengan mitra-mitranya di Indonesia mendanai kolaborasi riset Inggris- Indonesia terbaik yang berkontribusi memecahkan permasalahan ini.

Tahun ini, Indonesia terpilih sebagai satu diantara tiga negara yang berpartisipasi dalam Newton Prize. Penghargaan bergengsi ini dirancang untuk memungkinkan mitra Newton Fund Inggris terus berkontribusi menuntaskan isu global. Newton Prize menganggarkan dana hingga 1 juta Poundsterling atau sekitar 17,2 milyar Rupiah untuk 4 kolaborasi riset di ketiga negara mitra tersebut. Dari anggaran ini, Indonesia akan menerima setidaknya 1 penghargaan senilai 200,000 Poundsterling atau sekitar 3,4 milyar Rupiah.

Owen Jenkins, Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste menyatakan: “Newton Prize adalah contoh baik lainnya dalam hubungan Inggris-Indonesia. Hubungan ini semakin kuat dengan dirayakannya 70 tahun hubungan bilateral kedua negara. Newton Fund memberi ruang pada ilmuwan-ilmuwan hebat untuk bekerja sama demi masa depan yang lebih baik. Kerjasama Inggris dan Indonesia dalam bidang riset dan inovasi berkembang pesat dalam lima tahun terakhir, dan menjadi contoh bagaimana kolaborasi sains dapat terlaksana.”

Daftar pendek Newton Prize telah diumukan. Dua puluh riset masuk dalam daftar pendek ini, termasuk kolaborasi riset antara Inggris dengan Indonesia, Filipina dan Cina. Daftar pendek Chair’s Prize juga telah diumumkan. Mewakili Indonesia adalah kolaborasi riset antara Dr Dina Shona Laila dari Coventry University dan Professor Bambang Riyanto Trilaksono dari Institut Teknologi Bandung yang bertujuan meningkatkan ketahanan infrastuktur jembatan. Riset ini didanai baik oleh Newton Fund melalui Royal Academy of Engineering, dan oleh Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Kemenristekdikti). Riset tersebut akan bersaing dengan 1 riset Inggris-Filipina dan 3 riset Inggris-Cina.

Selain itu, 5 kolaborasi Newton Fund bersaing memenangkan Indonesia Country Prize.

  • Transmission dynamics and molecular epidemiology of arboviruses in Indonesia. Riset ini bertujuan untuk mempelajari lebih dalam hipotesis yang berbeda-beda mengenai arboviral epidemics termasuk virus demam berdarah, Chikungunya dan Zika. Peneliti utama dari Inggris adalah Professor Simon Frost dari University of Cambridge dan dari Indonesia adalah Dr Tedjo Sasmono dan Eijkman Institute for Molecular Biology. Riset ini didanai baik oleh Newton Fund melalui Medical Research Council, dan oleh Lembaga Pengelolaan Dana Pendidikan (LPDP) melalui Dana Ilmu Pengetahuan Indonesia (DIPI).
  • Development of serology diagnosis of chronic aspergillosis and histoplasmosis in Indonesia. Riset ini bertujuan untuk membutkikan apakah kasus penyakit tuberculosis di Indonesia benar-benar disebabkan oleh tuberculosis atau disebabkan oleh fungal (chronic pulmonary aspergillosis). Diagnosa yang lebih akurat dapat mencegah pasien dari penderitaan yang tidak seharusnya terjadi. Peneliti utama dari Inggris adalah Professor David W Denning dari University of Manchester dan dari Indonesia adalah Professor Retno Wahyuningsih dari Universitas Riset ini didanai baik oleh Newton Fund melalui Medical Research Council, dan oleh Lembaga Pengelolaan Dana Pendidikan (LPDP) melalui Dana Ilmu Pengetahuan Indonesia (DIPI).
  • The gendered everyday political economy of kampong eviction and resettlement in Jakarta. Riset ini bertujuan untuk memperkuat sasaran advokasi kebijakan berkenaan manajemen banjir dan relokasi di Jakarta dan Jawa Barat, serta melihat bagaimana peremajaan pemukiman di wilayah perkotaan dapat dibangun dengan pendekatan yang lebih mengutamakan kebutuhan perempuan berlatar belakang ekonomi rendah. Peneliti utama dari Inggris adalah Dr Juanita Elias dari University of Warwick dan dari Indonesia adalah Dr Chusnul Mariyah dari Universitas Indonesia. Riset ini didanai baik oleh Newton Fund melalui British Council, dan oleh Kemenristekdikti.
  • Mainstreaming Integrated Disaster Risk Reduction and Climate Change Adaptation into Coastal Urban Agglomeration Policy. Riset ini bertujuan untuk mengidentifikasi tantangan dan pendukung sistem peringatan dini tsunami dan kemampuannya dalam menangani tantangan-tantangan baru. Peneliti utama dari Inggris adalah Professor Richard Haigh dari University of Huddersfield dan dari Indonesia adalah Dr Harkunti Rahayu dari Institut Teknologi Riset ini didanai baik oleh Newton Fund melalui British Council, dan oleh Kemenristekdikti.
  • Tempe to Improve Memory in Elderly People with Dementia (TIME). Riset ini bertujuan untuk meneliti dampak tempe pada resiko dementia yang dialami perempuan di Inggris dan Indonesia. Peneliti utama dari Inggris adalah Professor Eef Hogervorst dari Loughborough University dan dari Indonesia adalah Professor Tri Budi Radhardjo dari Universitas Indonesia. Riset ini didanai baik oleh Newton Fund melalui British Council, dan oleh Kemenristekdikti.

Kami bangga Dr Yanuar Nugroho, Deputi II Kepala Staf Kepresidenan yang menangani kajian dan pengelolaan program prioritas, bergabung dalam komite juri Newton Prize. Komite yang dimpimpin oleh Profesor Alice Gast (Presiden Imperial College London) ini bertugas memeriksa aplikasi dalam daftar pendek dan memilih riset yang akan memenangkan penghargaan ini. Dr Yanuar Nugoro menyatakan: “Saya bangga terpilih sebagai juri penghargaan bergengsi Newton Prize dan semangat bekerja dengan anggota komite lainnya. Saya juga semangat memeriksa aplikasi yang sukses masuk daftar pendek, terutama untuk melihat bagaimana riset kolaborasi Indonesia-Inggris dapat membangun kapasitas riset di kedua negara hebat ini terus berkembang.”

Riset-riset yang masuk daftar pendek akan diperingati di acara penghargaan di Jakarta pada bulan November tahun ini, dimana pemenang Country Prize akan diumumkan. Acara peringatan berikutnya akan diadakan oleh UK Department for Business, Energy and Industrial Strategy di London pada 9 Desember untuk mengumumkan pemenang Chair Prize.

 

Redaksi: Media and Communication Section, British Embassy Jakarta



Leave a Reply