Sekolah Tinggi untuk Memperbaiki Hidup

Aku adalah anak kampung atau kampungan. Kampungku dialiri jaringan listrik tahun 2010 lalu sedangkan jalan beraspal baru ada di bulan Agustus 2017 itupun belum sampai ke kampung. Kampungku terletak di pelosok dan tertinggal, bernama Dusun Matanari, Desa Ujung Teran, Kecamatan Tigalingga Kabupaten Dairi,Sumatera Utara.

Aku ingat ketika masuk SMP aku harus berpisah dengan keluarga dan tinggal dengan orang lain dengan membayar uang sewa. Setiap bulan ayahku datang mengantar sewa bulanan dengan barter beras sekitar 30 kg karena tidak ada uang. Tidak istilah uang jajan, dan bisa sekolah saja sudah bersyukur sekali. Dalam separuh perjalanan SMP selanjutnya, aku mengambil resiko untuk berjalan kaki dari kampung hingga ke sekolah. Berangkat pukul 05.00 dini hari dan tiba di rumah lagi sekitar pukul 4 sore.

Terkadang aku merasa iri dan sedih ketika melihat teman-teman sebaya saat itu begitu leluasa menikmati masa pertumbuhan mereka. Sepulang sekolah mereka bisa bermain-main, les bahasa inggris, matematika dan lainnya. Sedang aku, demi hanya bisa sekolah, sepulang sekolah harus bekerja. Bisa dipastikan aku banyak tertinggal dibandingkan yang lain.

Ketika SMA pun kondisi tidak jauh berbeda. Sebagai anak kampung, harapan kami tidak muluk-muluk, agar aku bisa sekolah sudah cukup. Aku anak ke-4 dari 6 bersaudara. Dengan pekerjaan orangtua sebagai petani yang hanya mengecap pendidikan SD, mencapai sekolah SMA sudah menjadi keberhasilan luar biasa.

Selama SMA, selama 1,5 tahun aku ikut bantu-bantu bekerja di tungku pembuatan arang. Cukup meringankan beban orang tua karena dari kampung tidak perlu membayar apapun. Tentu konsekuensinya aku harus bekerja lebih tekun dan keras disana. Lagi, tidak ada waktu bermain. Selain itu, untuk memenuhi kebutuhan, aku juga pernah menjadi kuli di ladang atau kebun di sekitar Sidikalang. Siapa dan dimana saja yang penting menghasilkan uang. Dari jam 2 siang hingga 6 sore aku mendapatkan upah sebesar 10.000 rupiah. Keirian dan keinginan untuk bisa menjalani hidup seperti remaja pada umumnya tetap ada. Tapi aku juga menyadari bahwa aku berasal dari kalangan yang miskin. Suatu waktu, Aku tersentak disela istirahat ketika bekerja di ladang, seorang teman berkata “Baru kali ini aku lihat ketua OSIS harus bekerja begini”. Aku tidak tahu apakah itu pujian atau sindiran.

Aku mulai berfikir ulang tentang hidup. Kemiskinan ini harus diubah dengan pendidikan. Aku tidak bermaksud ingin menjadi kaya raya, hanya untuk meningkat derajat kehidupan keluarga. Disaat memikirkan ini, aku membaca apa yang dikatakan Nelson Mandela bahwa pendidikan adalah senjata terbaik mengejar ketertinggalan. Maka disaat itu, aku memutuskan harus kuliah.

Sulit mewujudkannya. Aku tidak mendapat dukungan keluarga, karena tidak ada uang. Tapi aku merengek untuk diijinkan kuliah. Akhirnya keluarga mengizinkan denga catatan bahwa aku hanya diberikan biaya daftar ulang jika lulus. Untuk biaya hidup dan lainnya harus aku usahakan sendiri. Entah apa yang mendorongku, langsung kusetujui. Padahal saat itu aku belum mendapat beasiswa apapun. Dan, singkatnya aku mendapatkan beasiswa untuk kuliah.

Persiapan untuk Beassiwa S2

Meski sudah mendapat beasiswa, masalahku belum berakhir. Beasiswa yang aku dapat sangat jauh dari cukup, khususnya di kota Medan. Mau tidak mau harus ada sumber pendapatan lain untuk menutupi kebutuhan.

Berbeda dengan kondisi di SMA, di perguruan tinggi waktu kuliah tidak bisa dikondisikan, sehingga aku kesulitan mengatur waktu belajar dan bekerja. Aku harus memikirkan cara lain. Setelah melihat senior menulis artikel media massa, dengan meminjam notebook teman, aku mulai mencoba menulis. Ternyata menulis tidak semudah yang aku bayangkan. Puluhan artikel yang kukirim tidak ada yang dimuat. Akhirnya di akhir semester dua artikelku perdana dimuat di media. Selama dua semester sebelum bisa menulis di media, badanku kering kerontang. Aku mendengar itu ketika liburan di kampung dari ibuku.

Banyak membaca berita dari koran, buku dan banyak menulis membawaku kepada kesadaran baru. Lulusan S1 saat ini sudah sama saja dengan lulusan SMA, banyak yang menganggur karena jumlah sarjana membludak. Disaat itu aku mulai berpikir untuk S2. Kalau S1 bisa, kenapa S2 tidak? Itulah secuil penyemangatku saat itu.

Tidak ada pilihan, aku harus S2 dengan beasiswa juga. Maka dari itu, aku harus mempersiapkan segalanya. Aku mulai aktif berorganisasi, mengikuti beberapa lomba kecil-kecilan di kampus, dan lain sebagainya. Hasilnya tidak terlalu mengecewakan, paling tidak satu piagam bisa kugapai. Selain itu, uangnya dapat menjadi sumber pendapatan.

Aku sudah mendengar tentang LPDP diakhir tahun 2015. Aku mulai sering mengunjungi situs dan membaca syaratnya. Syarat yang paling sulit bagiku adalah syarat bahasa inggris dengan skor TOEFL. Bagaimana mungkin anak kampungan sepertiku bisa memiliki bahasa inggris yang baik? Jika daerah lain sejak SD sudah belajar bahasa inggris, di sekolah SD-ku aku tidak pernah mendengar bahasa inggris. SMP dan SMA? Bahasa Inggrisku sangat buruk karena tidak ada basic mumpuni yang seharusnya kuterima di SD. Les atau kursus? Bisa sekolah saja sudah sangat bersyukur.

Hal ini juga berlanjut ketika kuliah. Mengambil kursus sangat tidak mungkin. Seiring mendekati akhir perkuliahan, pendapatan menulis freelance di media menurun karena banyak saingan dan banyak koran yang tutup atau tidak menerima artikel lagi. Aku nyaris frustasi karena tidak mendapatkan biaya untuk kursus tersebut.

Selalu ada jalan, fikirku. Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu. Begitu kata Andrea Hirata dalam novel Laskar Pelangi. Mendapat info dari teman, salah satu universitas swasta menerima kursus TOEFL selama 3 bulan hanya dengan 450.000 rupiah, semangatku kembali naik. Aku yakin bisa menghasilkan uang sebanyak itu. Cukup 3 artikel opini, aku bisa kursus.

Akan tetapi, kesibukan tugas-tugas kuliah semester tua, persiapan Program Praktik Lapangan (PPL) mulai menyerang. Ditambah dengan banyaknya penulis baru, tidak ada tulisanku yang dimuat beberapa bulan mendekati batas akhir pendaftaran kursus. Rasa frustasi kembali menodai semangatku. Tapi sebuah kepercayaan bahwa Tuhan beserta pada orang-orang berusaha tetap aku nyalakan. Di suatu sore, sepulang kuliah aku mendapati pengumuman di secarik kertas putih di mading jurusan. Pengumuman lomba menulis artikel ilmiah Fakultas yang aku ikuti tiga minggu lalu memampangkan namaku di urutan paling atas. Aku juara 1 dan mendapat hadiah 500.000! Segera aku gunakan uangnya untuk membayar biaya kursus. Dan akhir Februari 2017 aku mengikuti Tes TOEFL ITP. Aku hanya butuh skor minimal 400 sebagai syarat jalur Afirmasi.

Selang 14 hari kemudian, hasilnya keluar. Skornya cukup membuatku kaget dan harus bertanya kepada petugasnya.

“Mbak skornya yang ini ya?”tanyaku.

“Iya, bang,” jawabnya.

“460 ya?” Tanyaku lagi. Petugas itu tidak lagi menjawab. Aku tidak peduli. Aku larut dalam euforia.

Persiapan lainnya aku mengikuti kegiatan dan organisasi sosial dimasyarakat sejak kuliah maupun setelah bekerja sebagai guru di salah satu sekolah swasta di Medan. Bulan April 2017 aku mendaftar melamar beasiswa LPDP pertama kalinya. Semua sertifikat sejak SMA hingga kuliah yang pernah kuraih kuunggah sebagai persyaratan administrasi. Aku lulus seleksi administrasi, aku lulus seleksi Assesment Online dan akhirnya aku lulus seleksi substansi. Terima kasih Ayah dan Ibuku yang mendoakanku, Terima kasih kepada Allah SWT dan Terima kasih LPDP.

Ijinkan aku merampungkan kisah sederhana ini. Kita boleh miskin tapi janganlah kemiskinan itu ditambah dengan predikat bodoh atau tidak berpendidikan. Maka sekolahlah tinggi. Itu syarat penting mengubah hidup. Mengenai biaya sudah banyak beasiswa, maka jadilah kita orang miskin yang pantas dihargai. Pada akhirnya, tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Debu yang kecil, subtil nyatanya sangat bermanfaat di bumi ini. Kita tidak harus melakukan hal besar, lakukanlah hal kecil namun bermanfaat secara konsisten dalam hidup. Diujungnya kita akan menerima penghargaan yang tidak kita duga. Disitulah kebesaran dan keagungan Tuhan lebih hebat dan unggul dari kalkulasi logika.

Kini kesadaran baru telah muncul. Aku ingin suatu saat berhasil dalam studi dan pengabdianku. Aku ingin bermanfaat bagi orang lain khususnya bagi masyarakat miskin. Cita-cita tertinggiku cukup sederhana hanya ingin menjadi Kepala Dinas Pendidikan di kampungku. Aku ingin pendidikan benar-benar alat paling ampuh mengubah kehidupan.

Penulis: Toba Sastrawan Manik (Awardee LPDP Program Magister dari Jalur Afirmasi)