Semangat Berkontribusi melalui Penelitian setelah Melihat Langsung Dampak Erupsi Gunung Merapi

Pada tahun 2010, saya menyaksikan secara langsung bagaimana kondisi Yogyakarta dan sebagian Jawa Tengah ketika Gunung Merapi sedang erupsi dan menyemburkan banyak abu vulkanik ke kawasan perkotaan. Jarak pandang sangat terbatas dan kondisi jalanan tidak aman untuk dilalui oleh kendaraan. Banyak universitas, sekolah, dan perkantoran di Yogyakarta ketika itu diliburkan. 

Keluarga saya di Sumatera yang mulai khawatir, meminta saya untuk pulang sementara waktu. Namun permintaan itu tidak bisa saya lakukan, salah satunya karena Bandara Adisutjipto Yogyakarta ditutup selama lebih dari dua pekan. Pun beberapa bandara lainnya di Pulau Jawa ikut terganggu operasionalnya karena kehadiran abu vulkanik.

Belakangan baru saya tahu bahwa Indonesia sebenarnya merupakan rumah bagi 129 gunung api aktif dan merupakan negara dengan jumlah gunung api terbanyak di dunia. Dibandingkan dengan bahaya lainnya yang dihasilkan oleh erupsi gunung api—seperti awan panas, lahar, dan lahar dingin—abu vulkanik memiliki potensi yang kecil untuk menimbulkan korban jiwa, namun seringnya menimbulkan kerugian ekonomi terbesar, yang di antaranya disebabkan oleh terganggunya operasional infrastruktur transportasi.

Fakta bahwa operasional infrastruktur transportasi sangat rentan terhadap ancaman abu vulkanik menjadi salah satu pertimbangan bagi saya untuk memulai riset PhD pada tahun 2014 di Newcastle University. Pertanyaan utama saya pada awalnya hanya satu: bagaimana resiliensi infrastruktur terhadap abu vulkanik bisa ditingkatkan sehingga kerugian ekonomi yang diderita bisa diminimalisir?

Dalam proses penelitian empat tahun ini, saya kemudian banyak berkomunikasi dengan para pemangku kepentingan—Kementerian dan Dinas Perhubungan, PVMBG, BMKG, AirNav Indonesia, Otoritas Bandara, dan lain-lain—untuk memastikan bahwa penelitian yang kami lakukan akan benar-benar tepat sasaran dan semoga bisa membawa perbaikan pada instrumen eksisting yang digunakan oleh para pemangku kepentingan di dalam mengelola dampak abu vulkanik pada sektor infrastruktur.

Dan pada Hari Kamis ini, 23 Maret 2018, saya bersyukur diberi kesempatan mempresentasikan sebagian hasil penelitian itu dan diizinkan untuk memberikan beberapa rekomendasi kepada para pemangku kepentingan dan pengambil kebijakan.

Saya sadar bahwa mengubah kebijakan tidak semudah membalik telapak tangan. Tapi bagi saya, sudah diberi kesempatan untuk menyampaikan tentang langkah-langkah apa yang perlu diambil untuk meningkatkan resiliensi infrastruktur kita terhadap gangguan abu vulkanik, merupakan salah bentuk tanggung jawab saya terhadap amanah yang telah diberikan oleh rakyat Indonesia melalui beasiswa LPDP. Riset empat tahun yang didanai oleh uang rakyat Indonesia ini, semoga manfaatnya bisa kembali ke rakyat Indonesia pula.

Penulis: Muhammad Rezki Hr (PhD Candidate di School of Engineering Newcastle University)