Semangat dr. Tulus Sp.PD. sebagai Koordinator Tim Penanganan COVID-19 Sebuah Rumah Sakit di Kota Bandung

Dua bulan terakhir dr. Tulus bertugas di sebuah RS Rujukan COVID kota Bandung untuk menangani pasien-pasien COVID-19. Kesibukan ini menyita waktu dibandingkan dengan melayani pasien-pasien biasanya karena rumitnya pelayanan kesehatan yang harus diberikan dari segi medis, sosial, dan pembiayaan. Menyatukan ketiga pelayanan secara prima dalam 3 aspek ini sangat menghabiskan waktu dan jumlah pasien meningkat sangat banyak dalam waktu singkat.

Sebagai koordinator tim, dr. Tulus merasa sangat perlu membangun kepercayaan diri staf rumah sakit dan menghindarkan mereka dari ketakutan tertular COVID-19. Tim melakukan kuliah berulang-ulang dan mempelajari situasi di berbagai negara. Latihan menggunakan APD juga dilakukan berulang-ulang hingga seluruh tim mahir. Pelayanan terbaik diberikan kepada seluruh pasien di RS baik pasien COVID-19 dan pasien bukan COVID-19. Tanggung jawab berikutnya adalah memastikan pelayanan sesuai dengan regulasi pemerintah karena dalam kondisi pandemi ini peraturan dapat berubah sewaktu-waktu. “Saya bahagia karena bisa membantu istri kembali berkumpul dengan suami, anak kembali berkumpul dengan orang tua, orang tua kembali bisa melihat anak mereka. Setiap hari saya menerima ucapan doa yang baik dari pasien dan keluarga, itu saja sudah menjadi semangat yang luar biasa. Duka yang saya rasakan adalah karena tidak bisa sering bertemu keluarga, saya harus menjalani rapid test berulang dahulu sebelum bisa bertemu dengan keluarga. Terkadang rasa kangen kepada keluarga begitu kuat hingga saya menjadi sedih. Tapi saya yakin ketika kita menjaga manusia lain dalam kebaikan maka Allah SWT akan melakukan hal yang sama kepada keluarga kita” cerita dr. Tulus kepada LPDP.

“Sejujurnya saya menyukai pekerjaan saya karena dari apa yang saya lakukan karena saya bisa membantu istri kembali berkumpul dengan suami, anak kembali berkumpul dengan orang tua, orang tua kembali bisa melihat anak mereka. Setiap hari saya menerima ucapan doa yang baik dari pasien dan keluarga, itu saja sudah menjadi semangat yang luar biasa. Duka yang saya rasakan adalah karena tidak bisa sering bertemu keluarga, saya harus menjalani rapid test berulang dahulu sebelum bisa bertemu dengan keluarga sehingga saya tidak bisam menemui anak dan istri saya setiap hari. Terkadang rasa kangen kepada keluarga begitu kuat hingga saya menjadi sedih. Tapi saya yakin ketika kita menjaga manusia lain dalam kebaikan maka Allah SWT akan melakukan hal yang sama kepada keluarga kita” cerita dr. Tulus kepada LPDP.

Selain keluarga, doa-doa yang diberikan oleh pasien dan keluarga pasien sangat berarti untuk Memberi semangat ke dr. Tulus. “Doa yang setulus hati dari manusia lain adalah imbalan tertinggi yang bisa saya dapatkan, tidak ada imbalan uang atau apapun yang lebih berharga dari doa.” cerita dr. Tulus.

“Hal lain yang membuat saya terkesan adalah keberanian staf lain khususnya para perawat dalam menangani pasien, ketika banyak orang mundur dari pasien-pasien COVID-19 para perawat secara sukarela bahkan menawarkan diri untuk menjadi staf khusus penanganan COVID-19, melihat semangat mereka saya merasakan ketengan yang luar biasa dan saya yakin kami semua berada di jalan yang benar.” ungkap dr. Tulus.

dr. Tulus berpesan “Setiap bangsa yang besar akan diuji dengan ujian yang besar, ketika kita mengeluh lelah ingatlah para pendahulu kita yang juga lelah memperjuangkan kebaikan untuk kita. Untuk bangsaku di hari ini yakinlah bahwa apa yang terjadi saat ini adalah keputusan terbaik dari Allah SWT untuk menjadikan bangsa kita lebih kuat. Mintalah kepada Nya kebaikan dari cobaan, kesabaran dari kesulitan, dan syukur dari kesukaran.”

dr. Tulus Widiyanto Sp.PD.
Koordinator Tim Penanganan COVID-19 sebuah RS di Kota Bandung
Penerima Beasiswa LPDP PK-29



Leave a Reply