Tidak Ada Orang Bodoh, Kita Berhasil Karena Berusaha

Saya Umar, awardee LPDP pada program doktoral di Monash University, Australia. Meski dilahirkan dari sepasang petani miskin di pelosok Sulawesi Selatan, saya tetap percaya bahwa mimpi untuk mengenyam pendidikan di universitas bergengsi dunia pasti akan tercapai selama kesabaran, doa, dan perjuangan senantiasa mengiringi perjalanan hidup.

Masa kecil saya direlakan untuk membantu kedua orang tua mencari nafkah agar dapur terus mengepul. Sejak kelas 4 SD, saya sudah mulai berjualan es manis buatan ibu dari jam 07.30 pagi. Pada sore hari, saya menelusuri pinggiran desa tetangga untuk mengumpulkan pecahan rupiah demi membantu orang tua yang terlilit utang. Aktivitas tersebut rutin saya jalani hingga menginjak bangku SMP. Sebagai anak petani, sejak SMP hingga SMA saya rutin membantu orang tua di sawah setelah pulang sekolah.

Di sekolah saya bukan tergolong anak yang berprestasi. Saya tidak begitu mengerti hampir semua mata pelajaran kecuali olah raga. Puncaknya, di kelas 1 SMA saya mendapat peringkat ke-34 dari 35 siswa. Satu-satunya siswa yang saya kalahkan adalah orang yang tiga bulan tidak pernah hadir di sekolah. Meski begitu, saya percaya bahwa tidak berprestasi bukan berarti tidak bisa berprestasi, karena yang dibutuhkan adalah tekad yang kuat untuk terus berubah dan memperbaiki diri.

Di tahun 2005 saya tidak dapat melanjutkan pendidikan ke PTN karena kekurangan biaya. Dorongan kedua orang tua yang tidak pernah lelah bergelut dengan lumpur di sawah memberi semangat dan kesempatan untuk menginjak bangku kuliah setahun setelahnya. Saya masih ingat kata-kata almarhum Ibu, “Nak, ibu tidak kecewa kalau nilai rapor kamu jelek, tapi ibu kecewa kalau kamu sudah menyerah”. Setelah mengatakan itu, Ibu menyodorkan sejumlah uang hasil gadai sawah yang selama ini menjadi tumpuan ekonomi keluarga untuk bekal awal kuliah di Makassar. Kedua orang tua memberi pengorbanan yang terlalu mahal untuk disia-siakan dan terus-menerus memberi kepercayaan sekalipun di sekolah saya bukanlah anak yang berprestasi.

Di tahun 2006 saya memulai perkuliahan di program Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Negeri Makassar. Bahasa Inggris adalah mata pelajaran yang paling saya benci di bangku sekolah. Di kelas 1 SMA, saya mendapat nilai 4 di ujian Bahasa Inggris. Pelajaran Bahasa Inggris mengingatkanku pada memori dihukum guru berulang kali karena tidak mampu menjawab soal. Akan tetapi tidak ada yang tidak mungkin. Dengan ketekunan dan kesabaran, pelajaran yang saya anggap sulit justru membawa saya ke melampaui mimpi yang saya bayangkan sebelumnya.

Di bangku kuliah saya rutin belajar dan mendisiplinkan diri. Tidak ada kata terlambat untuk memulai. Saya tidak boleh tidur malam sebelum menghafal 30 kosakata baru dan mengerti minimal dua topik pelajaran tata bahasa setiap hari. Dengan penuh konsistensi saya berhasil menyelesaikan sarjana pendidikan Bahasa Inggris (S.Pd) di tahun 2010. Selain kuliah, saya mengajar part-time di beberapa lembaga kursus untuk menopang kebutuhan ekonomi dan bergonisasi extra dan intra kampus untuk menimba pengalaman.

Pada tahun 2013, saya mendapat kesempatan untuk melanjutkan pendidikan magister di Universitas Hasanuddin melalui beasiswa pendidikan pascasarjana dalam negeri (BPPDN-DIKTI). Magister of Humaniora (M. hum) berhasil saya raih di tahun 2015. Pada Desember 2015 hingga Maret 2016 saya mengikuti seleksi beasiswa LPDP untuk program doktoral setelah berjuang beberapa bulan untuk memenuhi semua syarat minimum yang tertera di website resmi LPDP. Awalnya saya melamar untuk PhD di Adelaide University akan tetapi beberapa calon pembimbing di beberapa universitas terkemuka di Australia dan New Zealand tertarik dengan penelitian yang saya ajukan. Saya memilih Monash University karena bidang pendidikan menempati urutan pertama di Australia dan peringkat 19 dunia versi Academic Ranking of World Universities.

Berhasil kuliah doktor di salah satu universitas bergengsi dunia bukan pencapaian akhir yang hendak saya tuju. Jika umur masih panjang, tugas besar menanti dihari-hari mendatang. Gelar akademik yang kelak dibawa pulang tidak hanya sekedar pencapaian pribadi untuk kepentingan memperbaiki nasib. Tantangan untuk menerapkan keilmuan yang telah diperoleh selama studi adalah perjuangan yang sesungguhnya. Saya ingin menjadi bagian dari perubahan Indonesia melalui pengembangan dunia pendidikan yang berbasis pada riset dan tuntutan kekinian.

Apapun masa lalu dan bagaimanapun keadaan kita, berubahalah jika menginginkan hidup yang lebih baik. Setiap yang bergerak pasti akan menuju pada satu titik. Setiap usaha pasti akan berbuah. Hampir semua cerita tentang kesuksesan di berbagai bidang akan menyajikan cerita dan kesimpulan yang sama bahwa mereka yang berhasil mewujudkan mimpinya adalah mereka yang tidak kenal lelah untuk terus berusaha dan menolak untuk menyerah. Karena menyerah berarti menutup pintu untuk terwujudnya sebuah harapan.

Penulis: Umar, PhD candidate in Education, Monash University, Australia